Kerajaan Turki Utsmani merupakan perpaduan antara kebudayaan
Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima
ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam kehidupan istana. Turki Utsmani
bermula karena penyebab balas budi seorang Sultan Ala Ad-Din II dari Turki
Saljuk Rum Ethogral yang menjadi seorang pemimpin pasukan perang melawan
tentara romawi dan kepada pasukan Ethogral, sebuah batasan wilayah dengan
Bizantium.
Sejarah Berdirinya Turki Utsmani Negara Utsmaniyyah yang dikenal
dengan "Daulah 'Alaihi Utsmaniyyah". Turki Utsmani ini terletak di
negara kawasan Timur Tengah yang berada benua Asia dan Eropa. Turki menjadi
tempat paling strategis untuk berdagang, berniaga, dan menyebarluaskan Islam.
Kata "Utsmani" diambil dari Nama Kesultanan Turki, yang memiliki nama
Osman Ghazi atau Sultan Utsman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M). Beliau
adalah Orang pertama yang menjadi pemimpin Kerajaan Turki Utsmani. Nama Beliau
dijadikan sebagai Simbol Turki yaitu "Utsmaniyyah". Sosok kesultanan
tersebut lebih dikenal dengan sebutan Osman Ghazi. Dialah pendiri Kesultanan
Utsmaniyah atau Ottoman kerajaan yang sejak 1517 menjadi sebuah kekhalifahan
Islam.
Adapun Kepemimpinan Turki Utsmani, antara lain; Sultan Utsman bin Urtoghal
(699-726 H/ 1299-1326 M), Sultan Murad I bin Orkhan (761-791 H/ 1362-1389 M),
Sultan Bayazid I bin Murad (791-805 H/ 1389-1402 M), Sultan Mehmed I Sultan ini
bernama Mehmed Celebi (1413-1421), Sultan Mehmed II adalah Muhammad Al-fatih,
Abdul Hammid Pada Abad ke 19, Sultan Sulaiman I.
Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas
berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang
kehidupan lain yang penting, di antaranya: bidang kemiliteran dan pemerintahan,
bidang ilmu pengetahuan dan budaya, bidang keagamaan. Kemunduran Turki Usmani
terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena
banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya
perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman
sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk.
Ada juga faktor lain yang menyebabkan kerajaan Usmani mengalami
kemunduran, di antaranya adalah; perluasan wilayah yang begitu cepat yang
terjadi pada kerajaan usmani, terjadi heterogenitas penduduk, kelemahan para
penguasa, budaya pungli, pemberontakan tentara jenissari, merosotnya ekonomi
akibat peperangan, terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.[1]
Sejarah Dinasti Safawi di Persia, lahirnya
Dinasti Safawi merupakan kebangkitan kembali kejayaan Islam setelah dihancurkan
oleh tentara Mongol. Dinasti Safawi muncul dari sebuah gerakan tarekat
safawiyah yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Alzerbaijan. (Azizi, 2017). Nama Safawi berasal dari nama seorang guru sufi di
Ardabil bernama Syekh Ishak Safiuddin. Dinasti Safawi di Persia memerintah dari
tahun 1501 hingga 1722 M. Dinasti ini adalah salah satu kerajaan Islam terbesar
di Persia.[2]
Pada waktu
kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di
Persia baru berdiri. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih
dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua
kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan
ini menyatakan sebagai penganut Syi’ah dan dijadikan sebagai madzhab negara.[3]
Dinasti Safawi mencapai puncaknya di bawah Abbas I. Tapi
pengikutnya tidak bisa mempertahankan kejayaannya karena sultan yang berkuasa
lemah. Sehingga mengundang pemberontakan dan masalah yang berkepanjangan. Shafi
Ad-Din mendirikan Tarekat Safawiyah setelah menggantikan gurunya dan juga ibu
mertuanya yang meninggal pada tahun 1301. Pada saat Ismail I berkuasa selama
kurang lebih 23 tahun (1501-1524 M) ia berhasil memperluas wilayah
kekuasaannya, ia juga dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Aq-qayunlu di
Hamadan 1503 M, menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd pada
tahun 1504 M, Diyar Bakr 1505-1507, Baghdad dan daerah barat daya persia pada
tahun 1508 M, Sirwan 1509 M dan Khurasan pada tahun 1510 M. Ismail I hanya
memerlukan waktu selama sepuluh tahun untuk menguasai seluruh Persia.[4]
Sepeninggal
Ismail I, kekuasaan Dinasti Safawiyah dilanjutkan oleh Tahmasp I (1524-1576 M),
lalu setelah itu dilanjutkan oleh Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khubanda
(1577-1587 M). Namun pada pemerintahan ketiga sultan tersebut, Dinasti Safawiyah
mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut terus berlangsung sampai pada
akhirnya Abbas I naik tahta. Pada masa Abbas I, Dinasti Safawiyah
perlahan-lahan mengalami kemajuan.[5]
Setelah Dinasti
Safawiyah menjadi kuat kembali, Abbas I mulai melakukan ekspansi dan merebut
kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang telah hilang. Abbas I juga melakukan
penyerangan kepada Turki Utsmani. Pada saat itu Turki Utsmani dibawah
kepemimpinan Sultan Muhammad II, Abbas I menyerang Turki Utsmani dan berhasil
menaklukan wilayah Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Seterlah itu Abbas I juga
berhasil menguasai kota Nakhchivan Erivan, Ganja dan Tiflish pada tahun
1605-1606 M.[6]
Kemunduran dan
kehancuran Dinasti Safawi mulai terlihat sejak meninggalnya Abbas I. setelah
Abas I wafat, Dinasti Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu
Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husen
(1694-1722 M), Tahsamp II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M). pada masa sultan-sultan
tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang,
tetapi justru mengalami kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.[7]
Sepeninggal Abbas I, pemerintahan diambil alih oleh Safi Mirza
(1628-1642 M), ia merupakan cucu dari Abbas I. Pada masa pemerintahannya, ia
dikenal sebagai sultan yang lemah dan kejam terhadap para pembesar-pembesar
kerajaan. Ia juga tidak mampu mempertahankan kemajuan-kemajuan yang berhasil
dilakukan Abbas I. Setelah Safi Mirza, pemerintahan dipegang oleh Abbas II
(1642-1667 M). Ia adalah sultan yang suka minum-minuman keras, suka menaruh
curiga terhadap para pembesar dan memperlakukannya dengan kejam. Abbas II
meninggal dikarenakan sakit. Selanjutnya dipimpin oleh Sulaiman (1667-1694 M),
ia memiliki kebiasaan buruk seperti Abbas II yang juga seorang pemabuk.[8]
Keadaan semakin bertambah buruk pada masa pemerintahan Husen
(1694-1722 M). Ia memberikan kebebasan kepada para ulama Syiah untuk memaksakan
paham Syiah dan pendapatnya terhadap penganut Sunni. Hal ini memicu kemarahan
dari golongan Sunni di Afghanistan, sehingga mereka melakukan pemberontakan.
Pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh salah seorang putera Husein bernama
Tahmasp II (1722-1732 M), ia mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari
Rusia. Dengan demikian, ia memproklamasikan dirinya sebagai penguasa yang sah
dengan pusat pemerintahan di kota Astarabad. Pada masa pemerintahan Nadir Khan,
Dinasti Safawiyah berhasil ditaklukan oleh Dinasti Qazar. Maka berakhirlah
kekuasaan Dinasti Safawiyah di Persia.[9]
Kerajaan Mughal merupakan salah satu warisan peradaban Islam di
India. Keberadaan kerajaan ini telah menjadi motivasi kebangkitan baru bagi
peradaban tua di anak benua India yang nyaris tenggelam. Dengan hadirnya
Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris
tenggelam, kembali muncul Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah atau sebutan
lainnya Mogul) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah
Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1858
M. Dinasti Mughal berdiri tegak selama kurang lebih tiga abad (1526–1858 M) di
India. Dalam kurun waktu tersebut, Islam telah memberi warna tersendiri di
tengah-tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu.[10]
Pada awal abad ke-18, Dinasti Mughal mulai memasuki masa
kemundurannya. Para penerus Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran
yang telah dibina oleh para penguasa sebelumnya, bahkan sultan terakhir diusir
dari istana setelah perlawanannya dipatahkan oleh Inggris. Penyebab runtuhnya
Dinasti Mughal antara lain karena terjadinya stagnasi pembinaan kekuatan
militer sehingga kekuasaan militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak
dapat dipantau oleh maritim Mughal.[11]
Kerajaan Mughal berasal dari tentara nomadik (penjelajah) dari
Afghanistan sehingga pemerintahan dijalankan oleh elit militer dan politisi.
Mereka terdiri dari para pembesar Iran, Afghanistan, Turki dan India. Kerajaan
ini berpusat di India dengan ibukota pemerintahan di Delhi dan merupakan
kelanjutan dari Kesultanan Delhi.[12]
Pemimpin Dinasti Mughal, antara lain; Zahiruddin Muhammad Babur,
Nasiruddin Muhammad Humayun, Jalaludin Muhammad Akbar, Sultan Jehangir/Salim,
Shah Jehan, Sultan Aurangzeb.
[1] Siti Zubaidah, “Sejarah Peradaban Islam”. Perdana Publishing, 2017.
[2] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan
Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.
[3] Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan Kerajaan
Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.
[4] Nur Rohman, “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan
Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/.
2022.
[5] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan
Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.
[6] Ibid.
[7] Abdul Syukur
al-Azizi, "Sejarah Terlengkap Peradaban Islam", 2017. h 380.
[8] Nur Rohman, “Kerajaan
Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An
Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/.
2022.
[9] Ibid.
[10] Sungarso, Abu Achmadi. (2019).
“Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT Bumi Askara.
[11] Ibid.
[12] Ibid.
Daftar Pustaka
Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan
Kerajaan Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.
Rohman, Nur. (2022). “Kerajaan Safawi Di Persia:
Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/.
Sungarso, Abu Achmadi. (2019). “Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT
Bumi Askara.
Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia -
Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.