Jumat, 17 Maret 2023

SEJARAH TURKI UTSMANI

 

Kerajaan Turki Utsmani merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam kehidupan istana. Turki Utsmani bermula karena penyebab balas budi seorang Sultan Ala Ad-Din II dari Turki Saljuk Rum Ethogral yang menjadi seorang pemimpin pasukan perang melawan tentara romawi dan kepada pasukan Ethogral, sebuah batasan wilayah dengan Bizantium.

Sejarah Berdirinya Turki Utsmani Negara Utsmaniyyah yang dikenal dengan "Daulah 'Alaihi Utsmaniyyah". Turki Utsmani ini terletak di negara kawasan Timur Tengah yang berada benua Asia dan Eropa. Turki menjadi tempat paling strategis untuk berdagang, berniaga, dan menyebarluaskan Islam. Kata "Utsmani" diambil dari Nama Kesultanan Turki, yang memiliki nama Osman Ghazi atau Sultan Utsman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M). Beliau adalah Orang pertama yang menjadi pemimpin Kerajaan Turki Utsmani. Nama Beliau dijadikan sebagai Simbol Turki yaitu "Utsmaniyyah". Sosok kesultanan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Osman Ghazi. Dialah pendiri Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman kerajaan yang sejak 1517 menjadi sebuah kekhalifahan Islam.

Adapun Kepemimpinan Turki Utsmani, antara lain; Sultan Utsman bin Urtoghal (699-726 H/ 1299-1326 M), Sultan Murad I bin Orkhan (761-791 H/ 1362-1389 M), Sultan Bayazid I bin Murad (791-805 H/ 1389-1402 M), Sultan Mehmed I Sultan ini bernama Mehmed Celebi (1413-1421), Sultan Mehmed II adalah Muhammad Al-fatih, Abdul Hammid Pada Abad ke 19, Sultan Sulaiman I.

Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, di antaranya: bidang kemiliteran dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya, bidang keagamaan. Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk.

Ada juga faktor lain yang menyebabkan kerajaan Usmani mengalami kemunduran, di antaranya adalah; perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan usmani, terjadi heterogenitas penduduk, kelemahan para penguasa, budaya pungli, pemberontakan tentara jenissari, merosotnya ekonomi akibat peperangan, terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.[1]

Sejarah Dinasti Safawi di Persia, lahirnya Dinasti Safawi merupakan kebangkitan kembali kejayaan Islam setelah dihancurkan oleh tentara Mongol. Dinasti Safawi muncul dari sebuah gerakan tarekat safawiyah yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Alzerbaijan. (Azizi, 2017). Nama Safawi berasal dari nama seorang guru sufi di Ardabil bernama Syekh Ishak Safiuddin. Dinasti Safawi di Persia memerintah dari tahun 1501 hingga 1722 M. Dinasti ini adalah salah satu kerajaan Islam terbesar di Persia.[2]

Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi’ah dan dijadikan sebagai madzhab negara.[3]

Dinasti Safawi mencapai puncaknya di bawah Abbas I. Tapi pengikutnya tidak bisa mempertahankan kejayaannya karena sultan yang berkuasa lemah. Sehingga mengundang pemberontakan dan masalah yang berkepanjangan. Shafi Ad-Din mendirikan Tarekat Safawiyah setelah menggantikan gurunya dan juga ibu mertuanya yang meninggal pada tahun 1301. Pada saat Ismail I berkuasa selama kurang lebih 23 tahun (1501-1524 M) ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, ia juga dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Aq-qayunlu di Hamadan 1503 M, menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd pada tahun 1504 M, Diyar Bakr 1505-1507, Baghdad dan daerah barat daya persia pada tahun 1508 M, Sirwan 1509 M dan Khurasan pada tahun 1510 M. Ismail I hanya memerlukan waktu selama sepuluh tahun untuk menguasai seluruh Persia.[4]

Sepeninggal Ismail I, kekuasaan Dinasti Safawiyah dilanjutkan oleh Tahmasp I (1524-1576 M), lalu setelah itu dilanjutkan oleh Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khubanda (1577-1587 M). Namun pada pemerintahan ketiga sultan tersebut, Dinasti Safawiyah mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut terus berlangsung sampai pada akhirnya Abbas I naik tahta. Pada masa Abbas I, Dinasti Safawiyah perlahan-lahan mengalami kemajuan.[5]

Setelah Dinasti Safawiyah menjadi kuat kembali, Abbas I mulai melakukan ekspansi dan merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang telah hilang. Abbas I juga melakukan penyerangan kepada Turki Utsmani. Pada saat itu Turki Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad II, Abbas I menyerang Turki Utsmani dan berhasil menaklukan wilayah Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Seterlah itu Abbas I juga berhasil menguasai kota Nakhchivan Erivan, Ganja dan Tiflish pada tahun 1605-1606 M.[6]

Kemunduran dan kehancuran Dinasti Safawi mulai terlihat sejak meninggalnya Abbas I. setelah Abas I wafat, Dinasti Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husen (1694-1722 M), Tahsamp II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M). pada masa sultan-sultan tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru mengalami kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.[7]

Sepeninggal Abbas I, pemerintahan diambil alih oleh Safi Mirza (1628-1642 M), ia merupakan cucu dari Abbas I. Pada masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai sultan yang lemah dan kejam terhadap para pembesar-pembesar kerajaan. Ia juga tidak mampu mempertahankan kemajuan-kemajuan yang berhasil dilakukan Abbas I. Setelah Safi Mirza, pemerintahan dipegang oleh Abbas II (1642-1667 M). Ia adalah sultan yang suka minum-minuman keras, suka menaruh curiga terhadap para pembesar dan memperlakukannya dengan kejam. Abbas II meninggal dikarenakan sakit. Selanjutnya dipimpin oleh Sulaiman (1667-1694 M), ia memiliki kebiasaan buruk seperti Abbas II yang juga seorang pemabuk.[8]

Keadaan semakin bertambah buruk pada masa pemerintahan Husen (1694-1722 M). Ia memberikan kebebasan kepada para ulama Syiah untuk memaksakan paham Syiah dan pendapatnya terhadap penganut Sunni. Hal ini memicu kemarahan dari golongan Sunni di Afghanistan, sehingga mereka melakukan pemberontakan. Pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh salah seorang putera Husein bernama Tahmasp II (1722-1732 M), ia mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia. Dengan demikian, ia memproklamasikan dirinya sebagai penguasa yang sah dengan pusat pemerintahan di kota Astarabad. Pada masa pemerintahan Nadir Khan, Dinasti Safawiyah berhasil ditaklukan oleh Dinasti Qazar. Maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Safawiyah di Persia.[9]

Kerajaan Mughal merupakan salah satu warisan peradaban Islam di India. Keberadaan kerajaan ini telah menjadi motivasi kebangkitan baru bagi peradaban tua di anak benua India yang nyaris tenggelam. Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah atau sebutan lainnya Mogul) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1858 M. Dinasti Mughal berdiri tegak selama kurang lebih tiga abad (1526–1858 M) di India. Dalam kurun waktu tersebut, Islam telah memberi warna tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu.[10]

Pada awal abad ke-18, Dinasti Mughal mulai memasuki masa kemundurannya. Para penerus Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh para penguasa sebelumnya, bahkan sultan terakhir diusir dari istana setelah perlawanannya dipatahkan oleh Inggris. Penyebab runtuhnya Dinasti Mughal antara lain karena terjadinya stagnasi pembinaan kekuatan militer sehingga kekuasaan militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat dipantau oleh maritim Mughal.[11]

Kerajaan Mughal berasal dari tentara nomadik (penjelajah) dari Afghanistan sehingga pemerintahan dijalankan oleh elit militer dan politisi. Mereka terdiri dari para pembesar Iran, Afghanistan, Turki dan India. Kerajaan ini berpusat di India dengan ibukota pemerintahan di Delhi dan merupakan kelanjutan dari Kesultanan Delhi.[12]

Pemimpin Dinasti Mughal, antara lain; Zahiruddin Muhammad Babur, Nasiruddin Muhammad Humayun, Jalaludin Muhammad Akbar, Sultan Jehangir/Salim, Shah Jehan, Sultan Aurangzeb.



[1] Siti Zubaidah, “Sejarah Peradaban Islam”. Perdana Publishing, 2017.

[2] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

[3] Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan Kerajaan Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.

[4] Nur Rohman, “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/. 2022.

[5] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

[6] Ibid.

[7] Abdul Syukur al-Azizi, "Sejarah Terlengkap Peradaban Islam", 2017. h 380.

[8] Nur Rohman, “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/. 2022.

[9] Ibid.

[10] Sungarso, Abu Achmadi. (2019).  “Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT Bumi Askara.

[11] Ibid.

[12] Ibid.


Daftar Pustaka

Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan Kerajaan Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.

Rohman, Nur. (2022). “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/.

Sungarso, Abu Achmadi. (2019).  Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT Bumi Askara.

Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

Zubaidah, Siti. (2017). “Sejarah Peradaban Islam”. Perdana Publishing.

 Abdul Syukur al-Azizi, (2017), “Sejarah Terlengkap Peradaban Islam”. Yogyakarta: Noktah.


PERADABAN ISLAM DI SPANYOL

          Awal masuknya Islam di Spanyol terjadi pada masa Khalifah Al-Walid khalifah dari  Bani  Umayyah  (705-715  M)  yang  berpusat  di  Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah.  Penguasa sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di Zaman Khalifah   Abdul   Malik (685-705M).[1]

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga tentara Islam yang dapat disebut paling berjasa memimpin satuan pasukan ke wilayah tersebut. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. (Zuana, 2016). Dalam kurun waktu tujuh abad Islam berkuasa di Spanyol (Andalusia), umat Islam telah mengukir masa keemasannya di berbagai bidang. Banyak prestasi yangtelah diukurnya, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia pada kemajuan yang lebih kompleks.[2]

Kemajuan Islam di Spanyol sangat menonjol dalam berbagai bidang, bidang  intelektual  yang  menyebabkan  kebangkitan  Eropa  saat  ini,  bidang  kebudayaan dalam  hal  ini  bangunan  fisik  atau  arsitektur,  maupun  bidang - bidang  lainnya.Puncak kemajuan peradaban Islam di Spanyol berdampak bagi kemajuan peradaban Eropa.[3]

Islam di Andalusia mulai mengalami kemunduran ketika Sultan Abdulrahman ke-3 meninggal dunia pada abad 11 Masehi. Ia digantikan oleh putranya yang masih kecil dan belum berpengalaman. Hal ini memicu perebutan kekuasaan oleh berbagai pihak baik Muslim maupun non-Muslim.Tercatat sekitar 20 kerajaan kecil berkuasa secara silih berganti di daerah Andalusia sesudah pemerintahan keluarga khalifah Abdurrahman berakhir. Kemunduran Islam yang berakibat patal terhadap seluruh sendi-sendi Islam di Spanyol, dibagi dua faktor penyebab kemunduran Yaitu: pertama penyebab dari luar dan kedua penyebab dari dalam.[4]



[1] Zuana, Nur Dinah Fauziah Muhammad Mujtaba Mitra, “Peradaban Islam Di Andalusia (Spanyol).” Al-’`Adalah: Jurnal Syariah Dan Hukum Islam 1, no.1: 80–91. https://doi.org/10.31538/adlh.v1i1.448, 2016.

[2] Sabila, Difa, “Makalah Peradaban Islam Di Spanyol.” https://www.academia.edu/36463887/Makalah_Peradaban_Islam_Di_Spanyol_docx. 2023.

[3] Zuana, Nur Dinah Fauziah Muhammad Mujtaba Mitra, “Peradaban Islam Di Andalusia (Spanyol).” Al-’`Adalah: Jurnal Syariah Dan Hukum Islam 1, no.1: 80–91. https://doi.org/10.31538/adlh.v1i1.448, 2016.

[4] Thalib, Muh Dahlan, “Kemunduran Dan Hapusnya Islam Di Andalusia Spanyol.” Jurnal Al-Ibrah 7. no. 2: https://jurnal.umpar.ac.id/index.php/ibrah/article/view/91. 2018.

 

Daftar Pustaka

Sabila, Difa. (2023). “Makalah Peradaban Islam Di Spanyol.” https://www.academia.edu/36463887/Makalah_Peradaban_Islam_Di_Spanyol_docx.

Thalib, Muh Dahlan. (2018). “Kemunduran Dan Hapusnya Islam Di Andalusia Spanyol.” Jurnal Al-Ibrah 7. no. 2: https://jurnal.umpar.ac.id/index.php/ibrah/article/view/91.

Zuana, Nur Dinah Fauziah Muhammad Mujtaba Mitra. (2016). “Peradaban Islam Di Andalusia (Spanyol).” Al-’`Adalah: Jurnal Syariah Dan Hukum Islam 1, no. 1: 80–91. https://doi.org/10.31538/adlh.v1i1.448.

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH

 

Dinasti Abbasiyah mendapatkan namanya dari seorang paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Al-Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. merasa lebih berhak memegang khilafah dibandingkan Bani Umayyah karena mereka merupakan cabang dari Bani Hasyim yang lebih dekat hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW. Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abdullah Al-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas atau lebih dikenal dengan nama Abu Al Abbas Al-Saffah. Dinasti Abbasiyah berlangsung dari tahun 132-656/750-1258 M. Selama lebih dari lima abad, keluarga Abbasiyah memerintah kekhalifahan, dengan pusat pemerintahannya di kota Bagdad. [1]

Dinasti Bani Abbasiyah muncul setelah jatuhnya Bani Umayyah. Abu al-Abbas al-Saffah sebagai khalifah pertama dan dengan dukungan panglima Abu Muslim al-Khurasan, ia berhasil mengalahkan sekelompok pemberontak seperti Syiah, oposisi yang dipimpin oleh al-Mukhtar, dan mengalahkan khalifah Bani Umayyah. pada masa Khalifah Marwan II tahun 750 M/132H. Pemerintahan Abu As-Safah dimulai pada tahun 750 M sampai al-Mu'tashim pada tahun 1258 M. Bani Abbasiyah memerintah selama lima abad dan memiliki 37 khalifah.[2]

Bentuk pemerintahan dinasti Abbasiyah Sistem dan bentuk pemerintahan dinasti ini, serta struktur organisasi dan manajemen administrasi, pada dasarnya tidak berbeda dengan pemerintahan dinasti Umayyah, tetapi ada sesuatu yang baru di dalamnya, yang diciptakan oleh Bani Abbas. Muawiyah bin Abi Sufyani melanjutkan dinasti Abbasiyah dan dia menggunakan gelar Khalifah. Namun pangkatnya lebih tinggi dari gelar khalifah pada masa Dinasti Umayyah. Para khalifah Abbasiyah bermukim di fi illullāh al-arḍ (Bayangan Allah di bumi).[3]

Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan Ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah) yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah.[4]

Pada masa inilah masa kejayaan Islam yang mengalami puncak keemasan pada masa itu berbagai kemajuan dalam segala bidang mengalami peningkatan seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sistem pemerintahannya. Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat, meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kemudian ekspansi wilayah dilanjutkan oleh dinasti abbasyiah ke Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India.[5]

Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa daulah Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju. Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Popularitas Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786- 809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial; rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan.[6]



[1] Aprianty Sintia, ''Refleksi Awal Terbentuknya Dinasti Abbasiyah'', Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam, 2022.

[2] Daulay Putra Haidar, Dahlan Zaini, Dan Putri Anisa Yumita, '' Peradaban Dan Pemikiran Islam Pada Masa Bani Abbasiyah.''  Dalam Jurnal, Vol 1 No 2: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2021.

[3] Abd Ar Rahman bin Muhammed ibn Khaldun, “The Muqaddimah”, 1861.

[4] Fathiha Nuril, ''Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah (Periode Kemunduran)'', dalam Jurnal, Vol 17, No1: Univeristas Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2021.

[5] Intan Salmah, '' Islam Sebagai Adikuasa '', dalam Jurnal, Vo. V No. 2: Jurnal rihlah, 2016.

[6] Nunzairina, '' Peradaban Islam '', dalam Jurnal UINSU, 2020.

 

Daftar Pustaka

Aprianty Sintia. (2022). ''Refleksi Awal Terbentuknya Dinasti Abbasiyah'', Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam.

Abd Ar Rahman bin Muhammed tbn Khaldun. (1861). “The Muqaddimah”.

Daulay Putra Haidar, Dahlan Zaini, Dan Putri Anisa Yumita. (2021). '' Peradaban Dan Pemikiran Islam Pada Masa Bani Abbasiyah.''  Vol 1 No 2: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Fathiha Nuril. (2021). ''Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah (Periode Kemunduran)''.  Vol 17, No1: Univeristas Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Intan Salmah. (2016). '' Islam Sebagai Adikuasa ''. Vo. V No. 2: Jurnal rihlah.

Nunzairina. (2020). '' Peradaban Islam ''. Jurnal UINSU.

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib di tangan Ibnu Muljim, Masyarakat Iraq (Kufah) langsung menyatakan bai’at terhadap Hasan Bin Ali bin Abi Thalib pada hari itu juga. Setelah acara bai’at selesai Hasan berangkat menuju Syam sebab penduduk Syam sampai pada detik itu belum menampakkan ketaatan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib beliaupun bergegas berangkat dengan niat berdamai ke negeri Syam. Hasan Bashri meriwayatkan hadits dari jalan Abu Bakrah dia berkata, aku mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata yang artinya: “cucuku ini bakalan menjadi pemimpin, semoga dengan perantaranya Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin (yang bersengketa)”.[1]

Sejak Khalifah Hasan Bin Ali mengundurkan diri dari khilafah, sejak itu pula Mu’awiyah resmi menjadi Khalifah kaum muslimin di Syiria (Syam), Iraq dan seluruh daerah Islam lainnya, tepatnya tahun 41 Hijriyah. Tahun ini disebut dengan sebutan amul jama’ah, karena ummat Islam kembali damai dibawah kepemimpinan satu khalifah. pengangkatan Mu’awiyah menjadi khalifah memberikan kontribusi kebaikan kepada kaum muslimin, sekaligus bantahan terhadap kaum Syi’ah yang mencela kepribadian Mu’awiya. Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin Radhiallahu Anhum yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya (Ibu Kota di Damaskus) serta dari 756 sampai 1031 di Cordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Cordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu Anhu atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah Radhiallahu Anhu.[2]

Muawiyah, sebagaimana ditetapkan awal pemerintahan Bani Umayyah, melembagakan monarki turun-temurun (kerajaan turun-temurun) sebagai pengganti pemerintahan khilafah yang demokratis. Awalnya, Muawiyah tidak menginginkan perubahan. Dia membatasi dirinya pada keseimbangan yang masuk akal antara satu makhluk dan makhluk lain sambil menghormati kekuatan yang ada. Kesuksesan kepemimpinan turun-temurun sesungguhnya dimulai ketika Muawiyah berjanji kepada seluruh rakyatnya untuk berbai'at kepada anaknya Yazid. Dilihat dari bentuk pemerintahannya, Muawiyah sebenarnya dimaksudkan untuk meniru monarki Persia dan Byzantium.[3]

Pemerintahan Bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa besar, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol. Muawiyah pendiri dinasti Umayah banyak mencapai sukses besar di masa pemerintahannya, khususnya dalam hal ekspansi. Kemajuan masa pemerintahan dinasti Umayah yang paling menonjol adalah bidang kemiliteran. Selama peperangan dengan militer Romawi, pasukan Arab mengambil pelajaran teknik kemiliteran mereka dan memadukannya dengan sistem pertahanan yang telah dimiliki sebelumnya.

Masa Khulafaur Rasyidin tentara Islam adalah tentara sukarela, maka pada zaman Daulah Umayah, orang masuk tentara kebanyakan dengan paksaan atau setengah paksa yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary (semacam UU wajib militer). Di masa pemerintahannya, Muawiyah juga telah menciptakan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Ciptaannya tersebut ialah mengadakan “Dinas Pos” pada tempat-tempat tertentu di sepanjang jalan, yang disediakan kuda lengkap dengan peralatan untuk mengumumkan kejadian-kejadian penting dengan cepatMuawiyah juga membangun kekuatan militer yang terdiri dari tiga angkatan, darat, laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal. Mereka diberi gaji yang cukup, dua kali lebih besar daripada yang diberikan Umar kepada tentaranya.

Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Dinasti Umayyah sangat dipengaruhi oleh fondasi dan pilar peradaban yang dibangun pada masa Nabi Muhammad SAW dan masa khulafaur rashidin. Pada masa Nabi Muhammad SAW, muncul generasi yang dikenal sebagai “Generasi Rabbani”, generasi yang berlandaskan ajaran Islam dan cara hidup. Pada masa khulafaur rashidin tidak hanya membantu dalam pemeliharaan dan pelestarian tradisi keilmuan yang berkembang pada masa Nabi, tetapi juga berkontribusi dalam kemajuan peradaban melalui capaian-capaian seperti perluasan wilayah, pengembangan wilayah administrasi. sistem pemerintahan, dan pengembangan dukungan legislatif, juga mendorong pembangunan berdasarkan hukum Izihad.[4]

Pada masa Bani Umayyah, bidang ilmu ini menjadi salah satu ilmu yang paling maju. Tanda-tanda berkembangnya ilmu antara lain adalah lahirnya tata bahasa Arab, yaitu Nawu dan Sorof. Ilmu ini pertama kali dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Duali (pada masa Khalifah Ali Ra) kemudian dikembangkan lagi oleh Khalil bin Ahmad al-Falahidi dan Shibawai. Sistem tulisan Arab juga berkembang di bidang ilmu ini selama periode Bani Umayyah.[5]



[1] Muhammad Sapii Harahap, “Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44, https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.

[2] Ibid.

[3] Shahban, ”Sejarah Islam Penafsiran Baru”,  Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali, 1993

[4] Samsul Munir, Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, Jakarta: Amzah, 2019.

[5] Ibid.


Daftar Pustaka

Samsul Munir, Amin. (2019). Sejarah Peradaban Islam”. Jakarta: Amzah.

Shahban. (1993).Sejarah Islam Penafsiran Baru. Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali

Harahap, Muhammad Sapii Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44, https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.

PERADABAN ISLAM HINGGA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

 

Sejarah Peradaban Arab Sebelum Islam, jika ditinjau dari segi politik, bangsa Arab tidak memiliki sistem pemerintahan seperti yang sekarang. Karena model politik bangsa Arab kala itu didominasi oleh kesukuan (model kabilah). Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme, adanya manfaat secara timbal balik untuk menjaga daerah dan menghadang musuh dari luar kabilah. Menurut nicholson tidak terbentuknya negara dalam struktur masyarakat arab sebelum islam disebabkan karena konstitusi kesukuan yang tidak tertulis hal ini tercermin dalam perjanjian perdagangan yang dibuat antara pemimpin suku di makkah dengan penguasa yaman, yamamah, tamim, gassaniah, hirah, suriah dan ethiopia.[1]

Namun, jika ditinjau dari kondisi masyarakat dengan keadaan alam yang gurun (padang pasir), penduduknya memiliki keistimewaan yaitu memiliki nasab murni karena jazirah tidak pernah dimasuki oleh orang asing bahasanya pun murni dan terpelihara dari kerusakan yang disebabkan oleh percampuran bangsa lain. Sifat yang menonjol dari penduduk padang pasir adalah pemberani, yang ditimbulkan oleh keadaan yang saling sedirian. Mereka selamanya membawa senjata sebagai alat untuk menjaga dirinya sendiri.[2]

Sejak zaman jahiliyah masyarakat Arab memiliki berbagai sikap yang positif seperti, sifat pemberani, daya ingat yang kuat, kesadaran akan harga diri, cinta kebebasan, setia terhadap suku dan pemimpin, pola kehidupan yang sederhana, ramah tamah, mahir dalam bersyair dan sebagainya. Secara garis besar, kondisi masyarakat mereka bisa dikatakan lemah dan buta. Kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, manusia layaknya binatang. Dalam hal kepercayaan (aqidah), bangsa arab pra islam percaya kepada Allah sebagai pencipta mereka sudah memahami keesaan allah dan mengikuti agama yang menuhankan Allah karena sebelum nabi Muhammad SAW diutus mereka kerap kali kedatangan dakwah dari para nabi utusan Allah diantaranya adalah nabi Nuh as yang diutus untuk kaum ‘Ad dan nabi Sholeh diutus untuk kaum tsamud. Mereka tidak mau menerima seruan para nabi allah hingga diutusnya nabi ibrahim as dan nabi ismail as, seruannya diterima baik disekitar Jazirah Arab.[3]

Namun, Agama nabi Ibrahim dan nabi Ismail terkontaminasi dengan menyembah berhala yang dianggap perantara anatara mereka dengan Tuhan. Ada tiga berhala yang paling besar yang ditempatkan ditempat tertentu, seperti Manat di Musyallal ditepi Laut Merah dekat Qudaid. Lata di Thaif. Uzza di Wadi Akhlak. lalu setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan berhala yang kecil bertebaran disetiap tempat di Hijaz dan menjadi fenomena terbesar dari kemusyrikan bangsa Arab kala itu yakni menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim.[4]

Mengenai stratafikasi sosial, masyarakat Arab terbentuk dalam kehidupan suku atau kabilah, masing-masing suku merupakan sebuah kesatuan yang mandiri. Seluruh kesetiaan terserap pada kelompok yang bertindak sebagai sebuah kolektivitas untuk mempertahankan individu anggota kelompoknya. Dari sinilah muncul disikap asabiyah (persatuan satu suku). Masyarakat Mekkah pun tidak terlepas dari sistem kabilah tersebut dan suku yang dominan pada waktu itu adalah suku Quraisy.[5]

Pesan-pesan awal Al-Quran yang turun di Makkah menekankan pada ketauhidan, ketaqwaan, masalah eskatologis, ibadah ritual, dan etika sosial. Internalisasi ajaran tauhid kedalam masyarakat Arab ditujukan untuk membebaskan mereka dengan ketergantungan terhadap segala aspek, baik ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Ajaran ini menuju pada pembentukkan masyarakat yang mengakui persamaan, persaudaraan, dan berkeadilan. Disamping itu juga untuk membangun masyarakat yang bermoral. Prinsip tauhid ini menembus langsung kedalam jantung masyarakat Arab.[6]

Ketika nabi Muhammad sampai di Madinah, beliau dihadapkan pada persoalan bagaimana menata bagaimana menata masyarakat yang kompleks, untuk menata kehidupan sosial politik komunitas di Madinah dan kompleks tersebut, Nabi menempuh dua cara. Pertama, menata intern kehidupan kaum muslim, yaitu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar secara efektif. Persaudaraan ini bukan diikat oleh hubungan darah dan kabilah melainkan atas dasar keimanan. Kedua, nabi mempersatukan antara kaum muslim dan kaum yahudi bersama sekutu-sekutunya.[7]

Terbentuknya negara Madinah ini, sebenarnya merupakan akibat dari perkembangan penganut islam yang menjelma menjadi kelompok sosial dan memiliki kekuatan ril pada pasca periode makkah dibawah pimpinan nabi. Kepemimpinan Nabi selaku kepala negara itu bertujuan untuk mengatur segala persoalan dan memikirkan kemaslahatan umat secara keseluruhan, dalam rangka pelaksanaan siyasah syar’iyah. Beliau mempersatukan penduduk Madinah yang heterogen yang mencegah timbulnya konflik-konflik di antara mereka agar terjamin ketertiban intern. Beliau mengadakan perjanjian damai dengan tetangga agar terjamin ketertiban ekstern, menjamin kebebasan bagi semua golongan, mengorganisir militer dan memimpin peperangan, melaksanakan hukum bagi pelanggar hukum, menerima perutusan dari berbagai suku Arab di Jazirah Arab.[8]

Piagam madinah merupakan piagam perjanjian damai yang mampu menyatukan berbagai perbedaan; suku, golongan, dan agama untuk hidup bersama dan saling melindungi satu dengan yang lain. Terbentuknya piagam madinah tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan konflik, dan kepentingan serta tradisi masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang ada dalam piagam madinah menjadi jawaban atas permasalahan waktu itu. Adanya piagam madinah mampu mempersatukan seluruh penduduk dalam naungan islam. suku aus dan khajraj masuk dalam kelompok anshar kemudian kaum muhajirin dan anshar masuk pada kaum muslimin.

Piagam madinah adalah kesepakatan pertama diarabia. Semua komunitas, muslim, dan yahudi bersatu padu dalam sebuah ikatan sosial (negara). Menurut Montgomery Watt beberapa poin isi dalam piagam madinah:

1. Mereka mempercayai dan bertanggung jawab dalam komunitas tunggal (umma)

2. Setiap klan dan subdevisi dari setiap komunitas bertanggungjawab atas darah dan uang tebusan bagi setiap anggota (pasal. 2-11)

3. Setiap Anggota dari setiap komunitas menunjukkan solidaritas penuh untuk melawan kejahatan, tidak mendukung pidana walapun dengan saudara dekat, dimana kejahatan digunakan untuk melawan anggota komunitas lain (pasal 13, 21)

4. Setiap Anggota dari komunitas menunjukkan solidaritas penuh untuk melawan orang-orang kafir dalam damai dan perang (Pasal, 14, 17,19,44), dan juga solidaritas dalam perlindungan lingkungan tempat tinggal (Pasal. 15)

5. Orang-orang Yahudi merupakan bagian dari komunitas, dan untuk mempertahankan agama mereka sendiri; mereka dan umat Muslim akan membantu (membantu dalam militer) satu sama lain ketika diperlukan (pasal. 24-35, 37, 38, 46)

Adapun pembentukan Khulafaur Rasyidin, Al-Khulafa Ar-Rasyidin bermakna pengganti-pengganti Rasul yang cendekiawan. Adapun pencetus nama Al-Khulafa Ar-Rasyidin adalah dari orang-orang muslim yang paling dekat dari Rasul setelah meninggalnya beliau. Ada 2 cara dalam pemilihan khalifah ini, yaitu: pertama, secara musyawarah oleh para sahabat nabi. Kedua, berdasarkan atas penunjukan khalifah sebelumnya.[9]

Biodata singkat tentang 4 Khulafaur Rasyidin; pertama Abu Bakar Ash Shiddiq, namanya ialah Abdullah Ibn Abi Quhaifah At-Tamini. Di zaman pra islam bernama Abdullah Ibnu Ka’bah kemudian diganti oelh nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama. Julukannya Abu Bakar (bapak pemagi) karena dari pagi-pagi betul memeluk agama islam, gelarnya Ash-Shiddiq karena ia sellau membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama isra mi’raj.[10]

Kedua, Umar Ibn Al-Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. ayahnya bernama Khattab dan Ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan, beliau dibesarkan dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua dalam islam setelah Abu Bakar As-Shiddiq.[11]

Ketiga, khalifah Usman bin Affan, nama lengkapnya ialah Usman Ibn Affan Ibn Abdil Ash Ibn Umayyah dari pihak Quraisy. Ia memeluk islam lantaran ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat nabi. melalui persaingan ketat dengan Ali, tim formmatur yang dibentuk oleh Umar Ibn Khattab akhirnya memberi mandat ke Khalifahan kepada Usman Ibn Affan. Masa pemerintahannya adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman Khulafa Ar-Rasyidin yaitu 12 tahun yang dibagi menjadi 2 periode, 6 tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik, dan 6 tahun pemerintahan terakhir adalah masa pemerintahan yang buruk.[12]

Keempat, masa khalifah Ali Ibn Abi Thalib, peristiwa pembunuhan Usman mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib menjadi khakifah. Waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah memaksa beliau sehingga akhirnya Ali menerima baiat mereka, menjadikan Ali satu-satunya khalifah yang di baiat secara masal. Ali memerintah hanya 6 tahun, selama masa pemerintahannya ia menghadapi berbagai pergolakan.[13]



[1] Taringan, Mardinal, Ningrum, Olivia, Natasha, Siregar, Aulia, Ismail, Siregar, Utari, Meiridha, , Harahap, Manna, Sejarah peradaban islam dan peradaban arab pra islam”, dalam Jurnal, Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling. hlm. 4-7.

[2] Taringan, Mardinal, Ningrum, Olivia, Natasha, Siregar, Aulia, Ismail, Siregar, Utari, Meiridha, , Harahap, Manna, Sejarah peradaban islam dan peradaban arab pra islam”, dalam Jurnal, Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Daud, Ilyas, Sistem Sosial Al-Quran”, dalam Jurnal, Vol. 2, No. 2. Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir, 2019.

[6] Ibid.

[7] Efrinaldi, Paradigma Politik Islam: Prototipe Negara Madinah dan Prinsip-Prinsip Politik Kenegaraan”, dalam Jurnal, Vol. 2, No. 2. IAIN Imam Bonjol Padang, 2017.

[8] Ibid.

[9] Roselani, Nadila, Ridho, Lubis, M, Azhari Sayyidatul, Ruwina, Yetti, “Peradaban islam masa khalifah rasyidin, dalam Journal on Education, 2023.

[10] Al-Quraibi, Ibrahim, “Tarikh Khulafa, Qisthi Press, 2009.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.



Daftar Pustaka


Al-Quraibi, Ibrahim. (2009). “Tarikh Khulafa. Qisthi Press.

Daud, Ilyas. (2019). Sistem Sosial Al-Quran”. Vol. 2, No. 2. Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Efrinaldi. (2017). Paradigma Politik Islam: Prototipe Negara Madinah dan Prinsip-Prinsip Politik Kenegaraan”. Vol. 2, No. 2. IAIN Imam Bonjol Padang.

Roselani, Nadila, Ridho, Lubis, M, Azhari Sayyidatul, Ruwina, Yetti. (2023). Peradaban islam masa khalifah rasyidin. Journal on Education

Taringan, Mardinal, Ningrum, Olivia, Natasha, Siregar, Aulia, Ismail, Siregar, Utari, Meiridha, , Harahap, Manna. (2022). Sejarah peradaban islam dan peradaban arab pra islam. Vol. 4 No. 6: Jurnal Pendidikan dan Konseling.

 

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...