Jumat, 17 Maret 2023

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib di tangan Ibnu Muljim, Masyarakat Iraq (Kufah) langsung menyatakan bai’at terhadap Hasan Bin Ali bin Abi Thalib pada hari itu juga. Setelah acara bai’at selesai Hasan berangkat menuju Syam sebab penduduk Syam sampai pada detik itu belum menampakkan ketaatan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib beliaupun bergegas berangkat dengan niat berdamai ke negeri Syam. Hasan Bashri meriwayatkan hadits dari jalan Abu Bakrah dia berkata, aku mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata yang artinya: “cucuku ini bakalan menjadi pemimpin, semoga dengan perantaranya Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin (yang bersengketa)”.[1]

Sejak Khalifah Hasan Bin Ali mengundurkan diri dari khilafah, sejak itu pula Mu’awiyah resmi menjadi Khalifah kaum muslimin di Syiria (Syam), Iraq dan seluruh daerah Islam lainnya, tepatnya tahun 41 Hijriyah. Tahun ini disebut dengan sebutan amul jama’ah, karena ummat Islam kembali damai dibawah kepemimpinan satu khalifah. pengangkatan Mu’awiyah menjadi khalifah memberikan kontribusi kebaikan kepada kaum muslimin, sekaligus bantahan terhadap kaum Syi’ah yang mencela kepribadian Mu’awiya. Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin Radhiallahu Anhum yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya (Ibu Kota di Damaskus) serta dari 756 sampai 1031 di Cordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Cordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu Anhu atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah Radhiallahu Anhu.[2]

Muawiyah, sebagaimana ditetapkan awal pemerintahan Bani Umayyah, melembagakan monarki turun-temurun (kerajaan turun-temurun) sebagai pengganti pemerintahan khilafah yang demokratis. Awalnya, Muawiyah tidak menginginkan perubahan. Dia membatasi dirinya pada keseimbangan yang masuk akal antara satu makhluk dan makhluk lain sambil menghormati kekuatan yang ada. Kesuksesan kepemimpinan turun-temurun sesungguhnya dimulai ketika Muawiyah berjanji kepada seluruh rakyatnya untuk berbai'at kepada anaknya Yazid. Dilihat dari bentuk pemerintahannya, Muawiyah sebenarnya dimaksudkan untuk meniru monarki Persia dan Byzantium.[3]

Pemerintahan Bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa besar, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol. Muawiyah pendiri dinasti Umayah banyak mencapai sukses besar di masa pemerintahannya, khususnya dalam hal ekspansi. Kemajuan masa pemerintahan dinasti Umayah yang paling menonjol adalah bidang kemiliteran. Selama peperangan dengan militer Romawi, pasukan Arab mengambil pelajaran teknik kemiliteran mereka dan memadukannya dengan sistem pertahanan yang telah dimiliki sebelumnya.

Masa Khulafaur Rasyidin tentara Islam adalah tentara sukarela, maka pada zaman Daulah Umayah, orang masuk tentara kebanyakan dengan paksaan atau setengah paksa yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary (semacam UU wajib militer). Di masa pemerintahannya, Muawiyah juga telah menciptakan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Ciptaannya tersebut ialah mengadakan “Dinas Pos” pada tempat-tempat tertentu di sepanjang jalan, yang disediakan kuda lengkap dengan peralatan untuk mengumumkan kejadian-kejadian penting dengan cepatMuawiyah juga membangun kekuatan militer yang terdiri dari tiga angkatan, darat, laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal. Mereka diberi gaji yang cukup, dua kali lebih besar daripada yang diberikan Umar kepada tentaranya.

Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Dinasti Umayyah sangat dipengaruhi oleh fondasi dan pilar peradaban yang dibangun pada masa Nabi Muhammad SAW dan masa khulafaur rashidin. Pada masa Nabi Muhammad SAW, muncul generasi yang dikenal sebagai “Generasi Rabbani”, generasi yang berlandaskan ajaran Islam dan cara hidup. Pada masa khulafaur rashidin tidak hanya membantu dalam pemeliharaan dan pelestarian tradisi keilmuan yang berkembang pada masa Nabi, tetapi juga berkontribusi dalam kemajuan peradaban melalui capaian-capaian seperti perluasan wilayah, pengembangan wilayah administrasi. sistem pemerintahan, dan pengembangan dukungan legislatif, juga mendorong pembangunan berdasarkan hukum Izihad.[4]

Pada masa Bani Umayyah, bidang ilmu ini menjadi salah satu ilmu yang paling maju. Tanda-tanda berkembangnya ilmu antara lain adalah lahirnya tata bahasa Arab, yaitu Nawu dan Sorof. Ilmu ini pertama kali dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Duali (pada masa Khalifah Ali Ra) kemudian dikembangkan lagi oleh Khalil bin Ahmad al-Falahidi dan Shibawai. Sistem tulisan Arab juga berkembang di bidang ilmu ini selama periode Bani Umayyah.[5]



[1] Muhammad Sapii Harahap, “Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44, https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.

[2] Ibid.

[3] Shahban, ”Sejarah Islam Penafsiran Baru”,  Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali, 1993

[4] Samsul Munir, Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, Jakarta: Amzah, 2019.

[5] Ibid.


Daftar Pustaka

Samsul Munir, Amin. (2019). Sejarah Peradaban Islam”. Jakarta: Amzah.

Shahban. (1993).Sejarah Islam Penafsiran Baru. Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali

Harahap, Muhammad Sapii Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44, https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...