Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib di
tangan Ibnu Muljim, Masyarakat Iraq (Kufah) langsung menyatakan bai’at terhadap
Hasan Bin Ali bin Abi Thalib pada hari itu juga. Setelah acara bai’at
selesai Hasan berangkat menuju Syam sebab penduduk Syam sampai pada detik itu
belum menampakkan ketaatan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib beliaupun
bergegas berangkat dengan niat berdamai ke negeri Syam. Hasan Bashri
meriwayatkan hadits dari jalan Abu Bakrah dia berkata, aku mendengarkan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata yang artinya: “cucuku
ini bakalan menjadi pemimpin, semoga dengan perantaranya Allah mendamaikan dua
kelompok besar kaum muslimin (yang bersengketa)”.[1]
Sejak Khalifah Hasan Bin Ali mengundurkan diri
dari khilafah, sejak itu pula Mu’awiyah resmi menjadi Khalifah kaum muslimin di
Syiria (Syam), Iraq dan seluruh daerah Islam lainnya, tepatnya tahun 41
Hijriyah. Tahun ini disebut dengan sebutan amul jama’ah, karena ummat
Islam kembali damai dibawah kepemimpinan satu khalifah. pengangkatan Mu’awiyah
menjadi khalifah memberikan kontribusi kebaikan kepada kaum muslimin, sekaligus
bantahan terhadap kaum Syi’ah yang mencela kepribadian Mu’awiya. Bani Umayyah
atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur
Rasyidin Radhiallahu Anhum yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah
Arab dan sekitarnya (Ibu Kota di Damaskus) serta dari 756 sampai 1031 di
Cordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Cordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada
Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah,
yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu Anhu atau kadangkala disebut
juga dengan Muawiyah Radhiallahu Anhu.[2]
Muawiyah, sebagaimana ditetapkan awal
pemerintahan Bani Umayyah, melembagakan monarki turun-temurun (kerajaan
turun-temurun) sebagai pengganti pemerintahan khilafah yang demokratis. Awalnya, Muawiyah tidak menginginkan perubahan. Dia membatasi
dirinya pada keseimbangan yang masuk akal antara satu makhluk dan makhluk lain
sambil menghormati kekuatan yang ada. Kesuksesan kepemimpinan turun-temurun
sesungguhnya dimulai ketika Muawiyah berjanji kepada seluruh rakyatnya untuk
berbai'at kepada anaknya Yazid. Dilihat dari bentuk pemerintahannya, Muawiyah
sebenarnya dimaksudkan untuk meniru monarki Persia dan Byzantium.[3]
Pemerintahan Bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa
besar, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di
negeri Spanyol. Muawiyah pendiri dinasti Umayah banyak mencapai sukses besar di
masa pemerintahannya, khususnya dalam hal ekspansi. Kemajuan masa pemerintahan
dinasti Umayah yang paling menonjol adalah bidang kemiliteran. Selama
peperangan dengan militer Romawi, pasukan Arab mengambil pelajaran teknik
kemiliteran mereka dan memadukannya dengan sistem pertahanan yang telah
dimiliki sebelumnya.
Masa Khulafaur Rasyidin tentara Islam adalah tentara sukarela, maka
pada zaman Daulah Umayah, orang masuk tentara kebanyakan dengan paksaan atau
setengah paksa yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary (semacam UU wajib
militer). Di masa pemerintahannya, Muawiyah juga telah menciptakan hal-hal baru
yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Ciptaannya tersebut ialah
mengadakan “Dinas Pos” pada tempat-tempat tertentu di sepanjang jalan, yang
disediakan kuda lengkap dengan peralatan untuk mengumumkan kejadian-kejadian
penting dengan cepatMuawiyah juga membangun kekuatan militer yang terdiri dari
tiga angkatan, darat, laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal. Mereka diberi
gaji yang cukup, dua kali lebih besar daripada yang diberikan Umar kepada
tentaranya.
Perkembangan Peradaban Islam
pada Masa Dinasti Umayyah sangat
dipengaruhi oleh fondasi dan pilar peradaban yang dibangun pada masa Nabi
Muhammad SAW dan masa khulafaur rashidin. Pada
masa Nabi Muhammad SAW, muncul generasi yang dikenal sebagai “Generasi
Rabbani”, generasi yang berlandaskan ajaran Islam dan cara hidup. Pada masa khulafaur rashidin tidak hanya membantu dalam pemeliharaan dan pelestarian
tradisi keilmuan yang berkembang pada masa Nabi, tetapi juga berkontribusi
dalam kemajuan peradaban melalui capaian-capaian seperti perluasan wilayah,
pengembangan wilayah administrasi. sistem pemerintahan, dan pengembangan
dukungan legislatif, juga mendorong pembangunan berdasarkan hukum Izihad.[4]
Pada masa Bani Umayyah, bidang ilmu ini menjadi salah satu ilmu
yang paling maju. Tanda-tanda berkembangnya ilmu antara lain adalah lahirnya tata bahasa Arab, yaitu Nawu dan Sorof.
Ilmu ini pertama kali dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Duali (pada masa
Khalifah Ali Ra) kemudian dikembangkan lagi oleh Khalil bin Ahmad al-Falahidi
dan Shibawai. Sistem tulisan Arab juga berkembang di bidang ilmu ini selama
periode Bani Umayyah.[5]
[1] Muhammad Sapii
Harahap, “Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat:
Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44,
https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.
[2] Ibid.
[3] Shahban, ”Sejarah Islam Penafsiran Baru”, Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali, 1993
[4] Samsul Munir, Amin, “Sejarah Peradaban Islam”, Jakarta: Amzah, 2019.
[5] Ibid.
Daftar Pustaka
Samsul Munir, Amin. (2019). “Sejarah
Peradaban Islam”. Jakarta:
Amzah.
Shahban. (1993). ”Sejarah Islam
Penafsiran Baru”. Jakarta: Raja Grafindo Persada; Rajawali
Harahap, Muhammad Sapii “Sejarah Dinasti Bani Umaiyyah dan Pendidikan Islam,” Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 4, no. 2 (October 6, 2020): H.42-44, https://doi.org/10.51590/waraqat.v4i2.86.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar