Jumat, 17 Maret 2023

SEJARAH TURKI UTSMANI

 

Kerajaan Turki Utsmani merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam kehidupan istana. Turki Utsmani bermula karena penyebab balas budi seorang Sultan Ala Ad-Din II dari Turki Saljuk Rum Ethogral yang menjadi seorang pemimpin pasukan perang melawan tentara romawi dan kepada pasukan Ethogral, sebuah batasan wilayah dengan Bizantium.

Sejarah Berdirinya Turki Utsmani Negara Utsmaniyyah yang dikenal dengan "Daulah 'Alaihi Utsmaniyyah". Turki Utsmani ini terletak di negara kawasan Timur Tengah yang berada benua Asia dan Eropa. Turki menjadi tempat paling strategis untuk berdagang, berniaga, dan menyebarluaskan Islam. Kata "Utsmani" diambil dari Nama Kesultanan Turki, yang memiliki nama Osman Ghazi atau Sultan Utsman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M). Beliau adalah Orang pertama yang menjadi pemimpin Kerajaan Turki Utsmani. Nama Beliau dijadikan sebagai Simbol Turki yaitu "Utsmaniyyah". Sosok kesultanan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Osman Ghazi. Dialah pendiri Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman kerajaan yang sejak 1517 menjadi sebuah kekhalifahan Islam.

Adapun Kepemimpinan Turki Utsmani, antara lain; Sultan Utsman bin Urtoghal (699-726 H/ 1299-1326 M), Sultan Murad I bin Orkhan (761-791 H/ 1362-1389 M), Sultan Bayazid I bin Murad (791-805 H/ 1389-1402 M), Sultan Mehmed I Sultan ini bernama Mehmed Celebi (1413-1421), Sultan Mehmed II adalah Muhammad Al-fatih, Abdul Hammid Pada Abad ke 19, Sultan Sulaiman I.

Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, di antaranya: bidang kemiliteran dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya, bidang keagamaan. Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk.

Ada juga faktor lain yang menyebabkan kerajaan Usmani mengalami kemunduran, di antaranya adalah; perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan usmani, terjadi heterogenitas penduduk, kelemahan para penguasa, budaya pungli, pemberontakan tentara jenissari, merosotnya ekonomi akibat peperangan, terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.[1]

Sejarah Dinasti Safawi di Persia, lahirnya Dinasti Safawi merupakan kebangkitan kembali kejayaan Islam setelah dihancurkan oleh tentara Mongol. Dinasti Safawi muncul dari sebuah gerakan tarekat safawiyah yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Alzerbaijan. (Azizi, 2017). Nama Safawi berasal dari nama seorang guru sufi di Ardabil bernama Syekh Ishak Safiuddin. Dinasti Safawi di Persia memerintah dari tahun 1501 hingga 1722 M. Dinasti ini adalah salah satu kerajaan Islam terbesar di Persia.[2]

Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi’ah dan dijadikan sebagai madzhab negara.[3]

Dinasti Safawi mencapai puncaknya di bawah Abbas I. Tapi pengikutnya tidak bisa mempertahankan kejayaannya karena sultan yang berkuasa lemah. Sehingga mengundang pemberontakan dan masalah yang berkepanjangan. Shafi Ad-Din mendirikan Tarekat Safawiyah setelah menggantikan gurunya dan juga ibu mertuanya yang meninggal pada tahun 1301. Pada saat Ismail I berkuasa selama kurang lebih 23 tahun (1501-1524 M) ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, ia juga dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Aq-qayunlu di Hamadan 1503 M, menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd pada tahun 1504 M, Diyar Bakr 1505-1507, Baghdad dan daerah barat daya persia pada tahun 1508 M, Sirwan 1509 M dan Khurasan pada tahun 1510 M. Ismail I hanya memerlukan waktu selama sepuluh tahun untuk menguasai seluruh Persia.[4]

Sepeninggal Ismail I, kekuasaan Dinasti Safawiyah dilanjutkan oleh Tahmasp I (1524-1576 M), lalu setelah itu dilanjutkan oleh Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khubanda (1577-1587 M). Namun pada pemerintahan ketiga sultan tersebut, Dinasti Safawiyah mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut terus berlangsung sampai pada akhirnya Abbas I naik tahta. Pada masa Abbas I, Dinasti Safawiyah perlahan-lahan mengalami kemajuan.[5]

Setelah Dinasti Safawiyah menjadi kuat kembali, Abbas I mulai melakukan ekspansi dan merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang telah hilang. Abbas I juga melakukan penyerangan kepada Turki Utsmani. Pada saat itu Turki Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad II, Abbas I menyerang Turki Utsmani dan berhasil menaklukan wilayah Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Seterlah itu Abbas I juga berhasil menguasai kota Nakhchivan Erivan, Ganja dan Tiflish pada tahun 1605-1606 M.[6]

Kemunduran dan kehancuran Dinasti Safawi mulai terlihat sejak meninggalnya Abbas I. setelah Abas I wafat, Dinasti Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husen (1694-1722 M), Tahsamp II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M). pada masa sultan-sultan tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru mengalami kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.[7]

Sepeninggal Abbas I, pemerintahan diambil alih oleh Safi Mirza (1628-1642 M), ia merupakan cucu dari Abbas I. Pada masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai sultan yang lemah dan kejam terhadap para pembesar-pembesar kerajaan. Ia juga tidak mampu mempertahankan kemajuan-kemajuan yang berhasil dilakukan Abbas I. Setelah Safi Mirza, pemerintahan dipegang oleh Abbas II (1642-1667 M). Ia adalah sultan yang suka minum-minuman keras, suka menaruh curiga terhadap para pembesar dan memperlakukannya dengan kejam. Abbas II meninggal dikarenakan sakit. Selanjutnya dipimpin oleh Sulaiman (1667-1694 M), ia memiliki kebiasaan buruk seperti Abbas II yang juga seorang pemabuk.[8]

Keadaan semakin bertambah buruk pada masa pemerintahan Husen (1694-1722 M). Ia memberikan kebebasan kepada para ulama Syiah untuk memaksakan paham Syiah dan pendapatnya terhadap penganut Sunni. Hal ini memicu kemarahan dari golongan Sunni di Afghanistan, sehingga mereka melakukan pemberontakan. Pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh salah seorang putera Husein bernama Tahmasp II (1722-1732 M), ia mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia. Dengan demikian, ia memproklamasikan dirinya sebagai penguasa yang sah dengan pusat pemerintahan di kota Astarabad. Pada masa pemerintahan Nadir Khan, Dinasti Safawiyah berhasil ditaklukan oleh Dinasti Qazar. Maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Safawiyah di Persia.[9]

Kerajaan Mughal merupakan salah satu warisan peradaban Islam di India. Keberadaan kerajaan ini telah menjadi motivasi kebangkitan baru bagi peradaban tua di anak benua India yang nyaris tenggelam. Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah atau sebutan lainnya Mogul) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1858 M. Dinasti Mughal berdiri tegak selama kurang lebih tiga abad (1526–1858 M) di India. Dalam kurun waktu tersebut, Islam telah memberi warna tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu.[10]

Pada awal abad ke-18, Dinasti Mughal mulai memasuki masa kemundurannya. Para penerus Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh para penguasa sebelumnya, bahkan sultan terakhir diusir dari istana setelah perlawanannya dipatahkan oleh Inggris. Penyebab runtuhnya Dinasti Mughal antara lain karena terjadinya stagnasi pembinaan kekuatan militer sehingga kekuasaan militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat dipantau oleh maritim Mughal.[11]

Kerajaan Mughal berasal dari tentara nomadik (penjelajah) dari Afghanistan sehingga pemerintahan dijalankan oleh elit militer dan politisi. Mereka terdiri dari para pembesar Iran, Afghanistan, Turki dan India. Kerajaan ini berpusat di India dengan ibukota pemerintahan di Delhi dan merupakan kelanjutan dari Kesultanan Delhi.[12]

Pemimpin Dinasti Mughal, antara lain; Zahiruddin Muhammad Babur, Nasiruddin Muhammad Humayun, Jalaludin Muhammad Akbar, Sultan Jehangir/Salim, Shah Jehan, Sultan Aurangzeb.



[1] Siti Zubaidah, “Sejarah Peradaban Islam”. Perdana Publishing, 2017.

[2] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

[3] Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan Kerajaan Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.

[4] Nur Rohman, “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/. 2022.

[5] Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

[6] Ibid.

[7] Abdul Syukur al-Azizi, "Sejarah Terlengkap Peradaban Islam", 2017. h 380.

[8] Nur Rohman, “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/. 2022.

[9] Ibid.

[10] Sungarso, Abu Achmadi. (2019).  “Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT Bumi Askara.

[11] Ibid.

[12] Ibid.


Daftar Pustaka

Pena Baru Nana. (2017). “Perkembangan Dan Kemajuan Kerajaan Safawi,”. Https://Penabaruna.Wordpress.Com/2017/10/14/Perkembangan-Dan-Kemajuan-Kerajaan-Safawi/.

Rohman, Nur. (2022). “Kerajaan Safawi Di Persia: Sejarah, Kemajuan Dan Kemundurannya | Universitas Islam An Nur Lampung,”. Https://An-Nur.Ac.Id/Kerajaan-Safawi-Di-Persia-Sejarah-Kemajuan-Dan-Kemundurannya/.

Sungarso, Abu Achmadi. (2019).  Sejarah Kebudayaan Islam”. Jakarta: PT Bumi Askara.

Fathoni, Rifai Shodiq. “Dinasti Safawiyah Di Persia - Wawasan Sejarah,” March 22, 2016. Https://Wawasansejarah.Com/Dinasti-Safawiyah-Di-Persia/.

Zubaidah, Siti. (2017). “Sejarah Peradaban Islam”. Perdana Publishing.

 Abdul Syukur al-Azizi, (2017), “Sejarah Terlengkap Peradaban Islam”. Yogyakarta: Noktah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...