Kamis, 08 Juni 2023

PERAN WALISONGO DALAM DAKWAH ISLAM DI INDONESIA

A.     Peran Walisongo dalam Dakwah Islam di Indonesia

Walisongo telah melahirkan tradisi Islam Jawa yang dialogis, terbuka (inklusif), kultural, dan sufistik sehingga membentuk pola berpikir, sikap dan perilaku keagamaan yang fleksibel, namun tetap berpegang pada nilai-nilai ketauhidan.[1] Perjalanan hidup dan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di daerah Jawa, khususnya dan di wilayah nusantara pada umumnya, maka peran mereka dapat dibentuk seperti Bidang Pendidikan, Bidang Politik dan yang paling terkenal adalah Bidang Dakwah.[2]

1.         Bidang Pendidikan

Peran walisongo di bidang pendidikan terlihat dari aktivitas mereka dalam mendirikan pesantren, sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Bonang. Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Pulau Jawa. Di tempat inilah, ia mendidik pemuda-pemudi Islam sebagai kader, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh Pulau Jawa.

Sedangkan Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Santrinya banyak berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia mengirim juru dakwah terdidik keberbagai daerah di luar Pulau Jawa seperti Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore. Sunan Bonang memusatkan kegiatan pendidikan dan dakwahnya melalui pesantren yang didirikan di daerah Tuban. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putera raja Majapahit, yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan Suluk Sunan Bonang.

2.        Bidang Politik

Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar. Di antara mereka menjadi penasehat Raja, bahkan ada yang menjadi raja, yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Ampel sangat berpengaruh dikalangan istana Majapahit. Istrinya berasal dari kalangan istana dan Raden Patah (putra raja Majapahit) adalah murid beliau. Dekatnya Sunan Ampel dengan kalangan istana membuat penyebaran Islam di daerah Jawa tidak mendapat hambatan, bahkan mendapat restu dari penguasa kerajaan. Sunan Giri fungsinya sering dihubungkan dengan pemberi restu dalam penobatan raja. Setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan, wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya. Sunan Kalijaga juga menjadi penasehat kesultanan Demak Bintoro.

3.         Bidang Dakwah

Sudah jelas sepertinya, peran Walisongo cukup dominan adalah di bidang dakwah, baik dakwah melalui lisan. Sebagai mubalig, Walisongo berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Muria dalam upaya dakwahnya selalu mengunjungi desa-desa terpencil. Adapun sarana yang dipergunakan dalam dakwah berupa pesantren-pesantren yang dipimpin olehpara Walisongo dan melalui media kesenian, seperti wayang. Mereka memanfaatkan pertunjukan-pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam, dengan membungkuskan nafas Islam ke dalamnya. Syair dari lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah dan tidak menyekutukannya atau menyembah yang lain.

B.     BModel Penyebaran Islam Walisongo

Dalam perkembangan awal, Islam di Jawa mempunyai beberapa ulama yang mendapatkan julukan “Wali”, yang bertugas menyampaikan dakwah Islamiah untuk mempertahankan Islam dengan menggunakan pendekatan kultural. Pendekatan kultural ini lebih cocok bagi masyarakat Jawa sehingga penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa dapat berjalan cepat dan mengakar serta intensitas keislamannya plural dan multikultural.[3]

Budaya dan tradisi lokal itu tidak dianggap oleh Walisongo sebagai “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan, budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan sebagai media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam syariat. Walisongo berdakwah dengan mengunakan metode pendekatan bahasa kearifan lokal sebagai wujud empati dalam memperhatikan budaya dan adat yang ada, lalu berusaha menarik simpati mereka. Model dakwah yang digunakan oleh Walisongo diantaranya.[4]

1.      Model penyebaran dakwah

Para Walisongo dapat diketahui melalui situs-situs peninggalan yang berupa masjid, miniatur arsitek dalam bentuk bangunan menara atau situs-situs gapura, desain ukir tempat makam para wali, atau peninggalan berupa ajaran kitab-kitab kuno.

2.        Model dakwah melalui akulturasi bahasa

Sekaten atau dalam bahasa Arab dikenal dengan syahadatayn 2 yang sudah banyak dikenal oleh orang Jawa. Istilah ini muncul karena akulturasi dakwah Islam di Jawa. Menurut Titi Asri, istilah sekaten lahir di desa Glagah Wangi Demak. Sekaten merupakan gamelan yang gendingnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga dengan nafas Islami menjadi Rabulngalamin, Salatun, Solawatan, dan sebagainya. Gamelan Sekaten merupakan dakwah melalui kesenian. Istilah lainnya berasal dari istilah Jawa adalah kalimasada yang mempunyai arti syahadat (bersaksi atau bersumpah).

3.        Memahami pesan-pesan dakwah lewat pertunjukan seni

Salah satu pertunjukan seni yang dikenal dan disebarkan pada zaman para wali adalah wayang. Wayang terbuat dari kulit kerbau, diprakarsai Sunan Kalijaga pada zaman Raden Patah yang bertahta di Demak. Lukisan wayang yang menyerupai bentuk manusia terdapat pada relief Candi Penataran di Blitar. Oleh karena lukisan tersebut sangat mirip manusia dan dinilai bertentangan dengan syariat, maka Sunan Kalijaga menyiasatinya dengan mengubah lukisan yang menghadap ke depan menjadi lukisan menghadap miring.

C. C.  Kemajuan Peradaban Islam pada masa Walisongo

Pada abad ke XV M., pesantren telah didirikan oleh para penyebar agama Islam, diantaranya Wali Songo. Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam mendirikan masjid dan asrama untuk santri. Di Ampel Denta, Sunan Ampel telah mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam. Sunan Giri telah ngelmu kepada Sunan Ampel mendirikan lembaga pendidikan Islam di Giri.

Pada abad XVII, lembaga-lembaga tersebut semakin eksis, mengakar kuat di Nusantara. Akan tetapi, keberadaan lembaga-lembaga ini mulai terancam oleh bahaya kolonialisme yang menawarkan westernisasi, modernisasi, sekaligus kolonialisme. Lembaga tersebut ditantang kemampuannya untuk dapat menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Sementara itu, pesantren di Jawa tetap eksis dan sampai saat ini menjadi bagian dari sistem pendidikan Nasional di Indonesia. Jalur islamisasi periode awal kedatangan Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. [5]

Keberadaan Walisango sangatlah memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa pada khususnya. Adapun kemajuan Islam pada masa Periode walisongo adalah sebagai berikut: Nilai-Nilai dan Tradisi Keulamaan Nusantara, Keragaman Paham Kesufian Nusantara, Pesantren hasil asimilasi Pendidikan Hindhu-Budha, Islamisasi Nilai-Nilai Seni Budaya.[6]

Strategi dakwah Wali Songo hingga saat ini pun masih banyak diterapkan oleh para da’i da’iyah milenial mulai dari pendekatan hingga metode dakwah yang digunakan. Langkah dakwah yang dilakukan oleh Veve Zulfikar merupakan salah satu bentuk reaktualisasi dakwah Wali Songo melalui media sosial. Tentunya pada era konsumtif media sosial saat ini strategi dakwah Wali Songo tidak begitu saja ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia, karena Wali Songo merupakan jalan utama dari penyebaran Islam di Indonesia. [7]



[1] Yuliyatun Tajuddin, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8, no. 2 (November 15, 2015): h. 371, https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.

[2] Nurul Syalafiyah and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs: Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020): h. 43, https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.

[3] Tajuddin, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah.”

[4] “Strategi Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,” h. 50, accessed April 5, 2023, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.

[5] susmihara Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017): 151–168.

[6] fandi Akhmad, “Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020): 252–272.

[7] Nurul Kifayah and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era Konsumtif Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021): 77–97.


DAFTAR PUSTAKA

Tajuddin Yuliyatun, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8, no. 2 (November 15, 2015), https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.

Syalafiyah Nurul and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs: Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020), https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.

 “Strategi Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda`: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,” h. 50, accessed April 5, 2023, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.

 susmihara Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017).

Akhmad fandi, “Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020).

Kifayah Nurul and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era Konsumtif Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021).

 

 

MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

A.    Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Pada tahun 30 H atau 651 M hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah Saw, Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan ra mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan ‘Ustman bin ‘Affan ternyata sempat singgah di kepulauan nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai Barat Sumatera.

Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi nusantara sambil berdakwah. Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh daerah paling barat dari kepulauan nusantara adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Aceh lah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Kerajaan Pasai.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada peng-Islaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan ke15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaankerajaan Hindu / Budha di nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda. Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 M ke Indonesia, memang sudah terlihat sifar rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kekayaan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk agama Islam, agama seteru mereka sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha.

Kedatangan kaum kolonialis di satu siis telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin nusantara. Namun di sisi lain membhat pendalaman akidaj Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keIslaman, itupun biasanya terbatas madzhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan Priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa.

Kedatangan Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Adapun Tokohtokoh itu diantaranya, Marcopolo, Muhammad Ghor, Ibnu Bathuthah, Dego Lopez de Sequeira, Sir Richard Wainsted.[1]

 

B.     Teori-teori masuknya Islam ke Indonesia

Menurut beberapa teori yang ada, ajaran Islam masuk ke Indonesia melalui orang-orang dari berbagai bangsa. Sebagian dari mereka ada yang datang ke Nusantara untuk berdagang sembari berdakwah. Ada pula kaum ulama atau ahli agama yang memang datang ke Nusantara untuk mensyiarkan ajaran Islam. Terlepas dari perdebatan dan diskusi yang kemudian muncul, ke-4 teori terkait masuknya Islam di Indonesia tersebut antara lain Teori India (Gujarat), Teori Arab (Mekkah), Teori Persia (Iran), dan Teori Cina.

a.       Teori India (Gujarat)

Teori ini menyatakan Islam datang ke Nusantara bukan langsung dari Arab melainkan melalui India pada abad ke-13. Dalam teori ini disebut lima tempat asal Islam di India yaitu Gujarat, Cambay, Malabar, Coromandel, dan Bengal. Teori India yang menjelaskan Islam berasal dari Gujarat terbukti mempunyai kelemahan-kelemahan. Hal ini dibuktikan oleh G.E.  Marrison dengan argumennya “Meskipun batu-batu nisan yang ditemukan ditempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau Bengal, seperti yang dikatakan Fatimi.  Itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari sana”.

Teori yang dikemukakan Marrison kelihatan mendukung pendapat yang dipegang T.W. Arnold. Menulis jauh sebelum Marrison, Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara, antara lain dari Koromandel dan Malabar.  Ia menyokong teori ini dengan menunjuk pada persamaan mazhab fiqh di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas muslim di Nusantara adalah pengikut Mazhab Syafi‟i, yang juga cukup dominan di wilayah Koromandel dan Malabar, seperti disaksikan oleh Ibnu Batutah (1304-1377), pengembara dari Maroko, ketika ia mengunjungi kawasan ini.

b.      Teori Arab (Mekkah)

Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke-7/8 M, saat Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Pada abad ke-7/8 M, selat Malaka sudah ramai dilintasi para pedagang muslim dalam pelayaran dagang mereka ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur.

Ada yang berpendapat mereka adalah utusanutusan Bani Umayah yang bertujuan penjajagan perdagangan. Demikian juga Hamka yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia tahun 674 M. Berdasarkan Catatan Tiongkok, saat itu datang seorang utusan raja Arab bernama Ta Cheh atau Ta Shih (kemungkinan Muawiyah bin Abu Sufyan) ke Kerajaan Ho Ling (Kalingga) di Jawa yang diperintah oleh Ratu Shima. TaShih juga ditemukan dari berita Jepang yang ditulis tahun 748 M.

c.       Teori Persia (Iran)

Ajaran Islam masuk ke Nusantara dari bangsa Persia (atau wilayah yang kemudian menjadi negara Iran) pada abad ke-13 Masehi didukung oleh Umar Amir Husen dan Husein Djajadiningrat.

  1. Teori Cina 

Penyebaran Islam di Indonesia juga diperkirakan masuk dari Cina. Ajaran Islam berkembang di Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), dibawa oleh panglima muslim dari ke khalifahan di Madinah semasa era Khalifah Ustman bin Affan, yakni Saad bin Abi Waqqash. Kanton pernah menjadi pusatnya para pendakwah muslim dari Cina.

  1. Teori Turki

Teori   ini   diajukan oleh Martin Van Bruinessen yang dikutip dalam Moeflich Hasbullah. Ia menjelaskan bahwa selain orang Arab dan Cina, Indonesia juga diislamkan oleh orang-orang Kurdi dari Turki. Ia mencatat sejumlah data. Pertama, banyaknya ulama Kurdi yang berperan mengajarkan Islam di Indonesia dan kitab-kitab karangan ulama Kurdi menjadi sumbersumber yang berpengaruh luas. Kedua, di antara ulama di Madinah yang mengajari ulama-ulama Indonesia terekat Syattariyah yang kemudian dibawake Nusantara adalah Ibrahim al-Kurani. Ketiga, tradisi barzanji populer di Indonesia dibacakan setiap Maulid Nabi pada 12 Rabi’ul Awal, saat akikah, syukuran, dan tradisi-tradisi lainnya.

Dari teori-teori tersebut tampak sekali bahwa fakta-fakta islamisasi diuraikan dengan tidak membedakan antara awal masuk dan masa perkembangan atau awal masuk dan pengaruh kemudian. Kedatangan Islam ke Nusantara telah melalui beberapa tahapan dari individualisme, kelompok, masyarakat, negara kerajaan, sampai membentuk mayoritas.  Jadi, sebenarnya teori tersebut tidak menggugurkan atau melemahkan teori sebelumnya, tetapi melengkapi proses Islamisasi.[2]

 

C.               C.  Strategi Penyebaran Islam di Indonesia

Perkembangan agama Islam di Nusantara tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses secara damai, responsif, dan proaktif. [3] Ada beberapa cara penyebaran ajaran Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut:

a.       Perdagangan

  1. Perkawinan

c.       Pendidikan

  1. Kesenian
  2. Politik
  3. Tasawuf 

D.             D. Aliran-Aliran Islam di Indonesia dan Pengaruhnya

a.       Aliran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Ahlu Sunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad Saw dan jamaah berarti sahabat Nabi Saw. Jadi Ahlusunnah wal jama’ah mengandung arti penganut sunnah Nabi Saw dan para sahabat beliau. Aliran ini, muncul sebagai reaksi setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran Mu’tazilah. Tokoh utama yang juga merupakan pendiri madzhab ini adalah Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Dua tokoh sunni ini kemudian dalam perkembangannya ajaran mereka menjadi doktrin penting dalam aliran sunni yakni aliran Asy’ariyah dan aliran Maturidiyah.

b.      Aliran Syiah

Menurut al-Syahrasthani, Syi'ah yaitu mereka yang menyokong Ali secara khusus, mereka meyakini kepemimpinan dan kekhalifahan Ali berdasarkan nash atau wasiat secara jelas maupun samara-samar dan meyakini bahwa imam itu tidak boleh keluar dari garis lingkungan keluarganya. Syi'ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad Saw .5

c.       Aliaran Khawarij

Kelompok ini muncul sebagai reaksi terhadap sikap khalifah Ali yang menyetujui mengakhiri perang dan menyelesaikan sengketa dengan kelompok Muawiyah dengan cara diplomasi politik. Sebelumnya kelompok Khowarij ini menjadi bagian dari pasukan Ali, tetapi karena tidak setuju atas sikap Ali yang menyelesaikan sengketa dengan jalan perundingan dengan Muawiyah, maka kelompok ini keluar dari Ali. Tentang perang antara Khalifah Ali dengan Muawiyah sebagai gubernur Damaskus, disebabkan karena kelompok Bani Umayyah pimpinan Muawayah, menuduh khalifah Ali terlibat dalam pembunuhan khalifah sebelumnya yaitu Usman bin Affan. [4]

 

d.      Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalanpersoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan murjia’ah sebagai aliran yang semasa. Mereka sangat menonjolkan penggunaan akal untuk mencari kebenaran sehingga mereka mendapat sebutan aliran rasionalis dalam Islam. Aliran ini muncul di kota Bashrah pada abad ke 2H sekitar tahun 105-110 H. [5]

 

e.       Aliran Murji’ah

Murji’ah berarti kelompok dalam islam yang berkeyakinan bahwa kemaksiatan tidak akan mempengaruhi keimanan seorang muslim, sebagaimana kekafiran tidak akan mempengaruhi ketaatan. Ibnu Taimiyyah mengutip perkataan Imam Ahmad mengenai Murji’ah bahwasanya mereka adalah kelompok yang mengatakan amalan (ibadah) bukan bagian dari keimanan.[6]

 

f.        Aliran Qadariyah

Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinvertasi oleh Tuhan.Aliran ini berpendapat bahwa tiaptiap orang adalah pencipta bagi setiap perbuatannya.  Berdasarkan paham tersebut dapat dipahami bahwa paham qadariyah dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalan hidupnya untuk mewujudkan perbuatan-perbutannnya.[7]

E.         E.  Proses Persinggungan Islam dengan Budaya Lokal

Kehadiran Islam di Indonesia disebabkan oleh para muballigh yang memiliki misi ganda yaitu selain menjalankan tugas Islam (sebagai da'i/muballigh) juga berfungsi sebagai pengusaha Islam, dengan menggunakan metode dakwah secara persuasif dan adaptif (bi al-mau'idzatil hasanah) dengan tradisi atau budaya Indonesia, sehingga terjadi saling asimilasi dan akulturasi. Pendekatan persuasif dan akomodatif (damai dan toleran) terhadap perkembangan Islam di Nusantara ini merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh para da'i Islam, karena dari segi sejarah budaya Indonesia telah bersinggungan dengan berbagai budaya dan kepercayaan yang memiliki setting berbeda. seperti budaya pribumi (animisme dan dinamisme), budaya India (Hindu dan Budha), dan seterusnya, dan masing-masing lapisan budaya ini memanifestasikan model dan variasi yang berbeda di setiap daerah di mana lapisan budaya itu berkembang. [8]

Sebagaimana halnya budaya Indonesia, mengalami dualisme budaya; budaya istana pertama dan budaya populer kedua. Dalam dua jenis budaya ini mereka menerima pengaruh Islam, yang merupakan tanda budaya antara budaya lokal dan Islam. Dalam kerangka budaya keraton, atau budaya keraton, kebudayaan dikembangkan oleh para abdi dalem atau pejabat kerajaan, mulai dari pujangga hingga tukang bangunan (arsitek). Para penyebar bentuk Islam yang lebih dekat dengan sumber tekstual Arab sering menyebut Islam budaya Jawa sebagai ketidak percayaan.[9]

Islam dalam dialektika dengan budaya lokal akhirnya membentuk varian Islam yang berbeda dan unik seperti Islam Jawa, Islam Aceh, Islam Padangi, Islam Sunda, Islam Sasak, Islam Bugis dll. Varian Islam ini bukanlah Islam yang tercabut dari akar kemurniannya, melainkan Islam yang dibudayakan dengan budaya lokal. Jadi, untuk strategi mengembangkan budaya Islam di Indonesia, kita harus memiliki visi ke depan. Karena budaya mempengaruhi semua cara pandang dan dimensi, sikap hidup dan realisasinya dalam kehidupan seseorang.[10]



[1] Rahayu Permana, “Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia,” n.d.

[2] Achmad Syafrizal, “Sejarah Islam Nusantara,” Islamuna: Jurnal Studi Islam 2, no. 2 (December 5, 2015): 235, https://doi.org/10.19105/islamuna.v2i2.664.

[3] Artikel tentang strategi penyebaran Islam di Indonesia

[4] Wildana Latif Mahmudi, “Pertumbuhan Aliran-Aliran Dalam Islam Dan Historinya,” n.d.

[5] Zainimal Zainimal, “Mu’tazilah dalam Lintasan Sejarah Pemikiran Islam,” Tarikhuna: Journal of History and History Education 3, no. 1 (June 7, 2021): 99–112, https://doi.org/10.15548/thje.v3i1.2948.

[6] Muh Faiz Wibowo, “Sejarah Dan Ajarannya Tentang Aliran Murji’ah,” n.d.

[7]https://www.researchgate.net/publication/359345783_Al_Jabariyah_dan_AlQadariyah_Pengertian_Latar_Belakang_Munculnya_dan_Pemikirannya

[8] Hamzah Junaid, “Kajian Kritis Akulturasi Islam Dengan Budaya Lokal,” Jurnal Diskursus Islam 1, no. 1 (April 26, 2013): h. 63, https://doi.org/10.24252/jdi.v1i1.6582.

[9] Moh Zaini, “Interaksi Islam Dalam Budaya Lokal,” December 21, 2019, h. 9.

[10] Limyah Al-Amri and Muhammad Haramain, “Akulturasi Islam Dalam Budaya Lokal,” KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan 10, no. 2 (November 24, 2017): h. 203, https://doi.org/10.35905/kur.v10i2.594. 


DAFTAR PUSTAKA

Al-Amri Limyah and Muhammad Haramain, “Akulturasi Islam Dalam Budaya Lokal,” KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan 10, no. 2 (November 24, 2017), https://doi.org/10.35905/kur.v10i2.594. 

Artikel tentang strategi penyebaran Islam di Indonesia

https://www.researchgate.net/publication/359345783_Al_Jabariyah_dan_AlQadariyah_Pengertian_Latar_Belakang_Munculnya_dan_Pemikirannya

Junaid Hamzah, “Kajian Kritis Akulturasi Islam Dengan Budaya Lokal,” Jurnal Diskursus Islam 1, no. 1 (April 26, 2013), https://doi.org/10.24252/jdi.v1i1.6582.

Mahmudi Latif Wildana, “Pertumbuhan Aliran-Aliran Dalam Islam Dan Historinya,” n.d.

Permana Rahayu, “Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia,” n.d.

Syafrizal Achmad, “Sejarah Islam Nusantara,” Islamuna: Jurnal Studi Islam 2, no. 2 (December 5, 2015): 235, https://doi.org/10.19105/islamuna.v2i2.664.

Wibowo Faiz Muh, “Sejarah Dan Ajarannya Tentang Aliran Murji’ah,” n.d.

Zaini Moh, “Interaksi Islam Dalam Budaya Lokal,” December 21, 2019.

Zainimal Zainimal, “Mu’tazilah dalam Lintasan Sejarah Pemikiran Islam,” Tarikhuna: Journal of History and History Education 3, no. 1 (June 7, 2021), https://doi.org/10.15548/thje.v3i1.2948.

 

 

 

 

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

 

A. Sejarah Perkembangan Islam Di Wilayah Asia Tenggara

Penduduk Asia Tenggara sangat beragam dalam hal bahasa, budaya, ras, agama, dan aspek lainnya. Karena hampir seluruh penduduknya beragama Islam di beberapa daerah, daerah-daerah tersebut telah berhasil mendirikan monarki dan pemerintahan Islam. Penyebaran islam lainnya juga dapat dari segi arsitektur, politik dan pemerintahan, budaya, pendidikan, hukum, pernikahan, kesenian, dan berbagai aspek lainnya.[1]

Masyarakat Islam di Asia Tenggara dewasa ini dapat dijumpai di semua negara, khususnya di negara-negara yang termasuk anggota ASEAN, tetapi eksistensinya di sebagian negara merupakan kelompok masyarakat yang minoritas, kecuali di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam mayoritas di kalangan penduduknya beragama Islam. Perkembangan masyarakat Islam di Asia Tenggara, terutama di negara-negara yang tergolong anggota ASEAN, juga kelihatan bervariasi dalam arti berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, karena proses masuknya Islam dan terbentuknya masyarakat yang menganut agama ini di tiap negara di kawasan ini tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan, di samping karena adanya faktorfaktor tertentu lainnya yang terdapat pada masing-masing negara, boleh jadi menyebabkan timbulnya perbedaan dalam perkembangan itu. Sejarah perkembangan Islam di Asia Tenggara dari masa ke masa dan Faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika perkembangan Islam di Asia Tenggara.[2]

B. Kemajuan Islam Di Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah salah satu dari tujuh wilayah budaya atau peradaban Islam, yang secara tegas terdiri dari wilayah budaya Islam Arab, Islam Persia, Islam Turki, Islam Afrika, Islam anak benua India, dan Islam Asia Tenggara (Melayu). Perkembangan Islam di Asia Tenggara dapat dibagi menjadi tiga fase; Pertama, terhentinya fase pedagang Muslim di pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara; kedua, keberadaan komunitas muslim di beberapa tempat di nusantara; Ketiga adalah fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.Perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara tidak lepas dari Islamisasi besar-besaran Kerajaan Islam (Kesultanan).

Kerajaan-kerajaan Islam yang dimaksud antara lain Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Malaka, Kesultanan Aceh Darussalam dan Palembang. Kesultanan Demak terletak di pulau Jawa, disusul Kesultanan Panjang, Kesultanan Mataram, Kesultanan Cirebon dan Banten. Contoh lainnya adalah Kerajaan Ternate. Islam datang ke kerajaan di Maluku pada tahun 1440. Rajanya adalah seorang Muslim bernama Bayang Ullah. Meskipun raja masuk Islam, dia tidak menampilkan Islam sebagai institusi politik. Kesultanan Ternate baru menjadi lembaga politik Islam pada tahun 1486 dengan Kerajaan Ternate dan sultan pertamanya, Sultan Zainal Abidin. Ada tiga faktor yang menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada masa kejayaannya, pertama, faktor religi (keagamaan), kedua, penghayatan ilmu pengetahuan, dan ketiga, pemajuan (perlindungan dan dukungan) terhadap berbagai tokoh ilmiah oleh penguasa.[3]

C. Modernisasi Islam Di Asi Tenggara

Pengertian modern bukan saja mengacu kepada zaman tetapi yang terpenting adalah cara berfikir dan bertindak. Modernisasi di tandai dengan 2 ciri utama yaitu rasionalisasi dan teknikalisasi. Dalam masyarakat barat kata medernisasi memiliki arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat- istiadat, institusi-institusi lama agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan kaedaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modern.

Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam timbul terutama sebagai hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dan barat. Karena kontak itu umat islam abad XIX sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan dengan barat. Gerakan pembaharuan inipun akhirnya merambah pula kedunia politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan Islamisme (persatuan islam sedunia) yang awalnya gagasan ini di usung oleh wahabiyyah dan sanusiah. Namun baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir islam terkenal, Jamalaluddin Al-Afghani (1839-1897 M) asal Afganistan.[4]

Pada masa 8 bulan peredaran, majalah ini berhasil menanamkan benih-benih modernisasi di kalangan umat Islam. Tersebar luas di seluruh dunia islam, tatkala murid Abduh yg bernama Rasyid Ridha menerbitkan majalah Al-Manar di Mesir. Penyebaran dan pengaruh pembaharuan islam modern di asia sejak awal abad ke-20, dan dengan gagasan Jamaluddin Al-afghani dan Muhammad Abduh menjadi lebih tersebar luas di dunia Islam.[5]

 

 



[1] Suhaimi Suhaimi et al., “Pendidikan sejarah Islam Asia Tenggara: overview penyebaran Islam melalui Bibliometrik,” n.d., h 278.

[2] “367-Article Text-693-1-10-20150408.Pdf,” n.d., h.114.

[3] Muhammad Arbain, “DinamikaPerkembangan Pendidikan Islam di Asia TenggaraBorneo International Journal of Islamic Studies, 2019, vol 2 (1).

[5] https://id.scribd.com/document/547919764/makalah-modernisasai-islam


DAFTAR PUSTAKA

 

“367-Article Text-693-1-10-20150408.Pdf,” n.d.

Arbain Muhammad, “DinamikaPerkembangan Pendidikan Islam di Asia Tenggara” Borneo International Journal of Islamic Studies, 2019, vol 2 (1).

https://id.scribd.com/document/465312993/Modernisasi-Islam-di-Asia-Tenggara

https://id.scribd.com/document/547919764/makalah-modernisasai-islam

Suhaimi Suhaimi et al., “Pendidikan sejarah Islam Asia Tenggara: overview penyebaran Islam melalui Bibliometrik,” n.d.

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...