A. Peran Walisongo dalam Dakwah Islam di Indonesia
Walisongo telah melahirkan tradisi Islam Jawa yang dialogis,
terbuka (inklusif), kultural, dan sufistik sehingga membentuk pola berpikir,
sikap dan perilaku keagamaan yang fleksibel, namun tetap berpegang pada
nilai-nilai ketauhidan.[1]
Perjalanan hidup dan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di
daerah Jawa, khususnya dan di wilayah nusantara pada umumnya, maka peran mereka
dapat dibentuk seperti Bidang Pendidikan, Bidang Politik dan yang paling
terkenal adalah Bidang Dakwah.[2]
1.
Bidang Pendidikan
Peran walisongo di bidang pendidikan terlihat dari aktivitas mereka
dalam mendirikan pesantren, sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan
Giri, dan Sunan Bonang. Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta yang
dekat dengan Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang
pertama di Pulau Jawa. Di tempat inilah, ia mendidik pemuda-pemudi Islam
sebagai kader, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh Pulau
Jawa.
Sedangkan Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Santrinya
banyak berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia mengirim juru dakwah
terdidik keberbagai daerah di luar Pulau Jawa seperti Madura, Bawean, Kangean,
Ternate dan Tidore. Sunan Bonang memusatkan kegiatan pendidikan dan dakwahnya
melalui pesantren yang didirikan di daerah Tuban. Sunan Bonang memberikan
pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putera raja Majapahit,
yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut
kini dikenal dengan Suluk Sunan Bonang.
2.
Bidang Politik
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di
Jawa, Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar. Di antara mereka menjadi
penasehat Raja, bahkan ada yang menjadi raja, yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan
Ampel sangat berpengaruh dikalangan istana Majapahit. Istrinya berasal dari
kalangan istana dan Raden Patah (putra raja Majapahit) adalah murid beliau.
Dekatnya Sunan Ampel dengan kalangan istana membuat penyebaran Islam di daerah
Jawa tidak mendapat hambatan, bahkan mendapat restu dari penguasa kerajaan.
Sunan Giri fungsinya sering dihubungkan dengan pemberi restu dalam penobatan
raja. Setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan, wali yang lain
selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya. Sunan Kalijaga juga menjadi
penasehat kesultanan Demak Bintoro.
3.
Bidang Dakwah
Sudah jelas sepertinya, peran Walisongo cukup dominan adalah di
bidang dakwah, baik dakwah melalui lisan. Sebagai mubalig, Walisongo
berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dalam menyebarkan agama Islam.
Sunan Muria dalam upaya dakwahnya selalu mengunjungi desa-desa terpencil.
Adapun sarana yang dipergunakan dalam dakwah berupa pesantren-pesantren yang
dipimpin olehpara Walisongo dan melalui media kesenian, seperti wayang. Mereka
memanfaatkan pertunjukan-pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam,
dengan membungkuskan nafas Islam ke dalamnya. Syair dari lagu gamelan ciptaan
para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah dan tidak
menyekutukannya atau menyembah yang lain.
B. B. Model Penyebaran Islam Walisongo
Dalam perkembangan awal, Islam di Jawa mempunyai beberapa ulama
yang mendapatkan julukan “Wali”, yang bertugas menyampaikan dakwah Islamiah
untuk mempertahankan Islam dengan menggunakan pendekatan kultural. Pendekatan
kultural ini lebih cocok bagi masyarakat Jawa sehingga penyebaran dan
pengembangan Islam di Jawa dapat berjalan cepat dan mengakar serta intensitas
keislamannya plural dan multikultural.[3]
Budaya dan tradisi lokal itu tidak dianggap oleh Walisongo sebagai
“musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan, budaya dan tradisi lokal itu mereka
jadikan sebagai media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam syariat.
Walisongo berdakwah dengan mengunakan metode pendekatan bahasa kearifan lokal
sebagai wujud empati dalam memperhatikan budaya dan adat yang ada, lalu
berusaha menarik simpati mereka. Model dakwah yang digunakan oleh Walisongo
diantaranya.[4]
1.
Model penyebaran dakwah
Para Walisongo dapat diketahui melalui situs-situs peninggalan yang
berupa masjid, miniatur arsitek dalam bentuk bangunan menara atau situs-situs
gapura, desain ukir tempat makam para wali, atau peninggalan berupa ajaran
kitab-kitab kuno.
2.
Model dakwah melalui akulturasi bahasa
Sekaten atau dalam bahasa Arab dikenal dengan syahadatayn 2 yang
sudah banyak dikenal oleh orang Jawa. Istilah ini muncul karena akulturasi
dakwah Islam di Jawa. Menurut Titi Asri, istilah sekaten lahir di desa Glagah
Wangi Demak. Sekaten merupakan gamelan yang gendingnya diciptakan oleh Sunan
Kalijaga dengan nafas Islami menjadi Rabulngalamin, Salatun, Solawatan, dan
sebagainya. Gamelan Sekaten merupakan dakwah melalui kesenian. Istilah lainnya
berasal dari istilah Jawa adalah kalimasada yang mempunyai arti syahadat
(bersaksi atau bersumpah).
3.
Memahami pesan-pesan dakwah lewat pertunjukan seni
Salah satu pertunjukan seni yang dikenal dan disebarkan pada zaman
para wali adalah wayang. Wayang terbuat dari kulit kerbau, diprakarsai Sunan
Kalijaga pada zaman Raden Patah yang bertahta di Demak. Lukisan wayang yang
menyerupai bentuk manusia terdapat pada relief Candi Penataran di Blitar. Oleh
karena lukisan tersebut sangat mirip manusia dan dinilai bertentangan dengan
syariat, maka Sunan Kalijaga menyiasatinya dengan mengubah lukisan yang
menghadap ke depan menjadi lukisan menghadap miring.
C. C. Kemajuan Peradaban Islam pada masa Walisongo
Pada abad ke XV M., pesantren telah didirikan oleh para penyebar
agama Islam, diantaranya Wali Songo. Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam
mendirikan masjid dan asrama untuk santri. Di Ampel Denta, Sunan Ampel telah
mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda
Islam. Sunan Giri telah ngelmu kepada Sunan Ampel mendirikan lembaga pendidikan
Islam di Giri.
Pada abad XVII, lembaga-lembaga tersebut semakin eksis, mengakar
kuat di Nusantara. Akan tetapi, keberadaan lembaga-lembaga ini mulai terancam
oleh bahaya kolonialisme yang menawarkan westernisasi, modernisasi, sekaligus
kolonialisme. Lembaga tersebut ditantang kemampuannya untuk dapat menyesuaikan
dengan tuntutan zaman. Sementara itu, pesantren di Jawa tetap eksis dan sampai
saat ini menjadi bagian dari sistem pendidikan Nasional di Indonesia. Jalur islamisasi
periode awal kedatangan Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan,
tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. [5]
Keberadaan Walisango sangatlah memiliki peran penting dalam
penyebaran Islam di Jawa pada khususnya. Adapun kemajuan Islam pada masa
Periode walisongo adalah sebagai berikut: Nilai-Nilai dan Tradisi Keulamaan
Nusantara, Keragaman Paham Kesufian Nusantara, Pesantren hasil asimilasi
Pendidikan Hindhu-Budha, Islamisasi Nilai-Nilai Seni Budaya.[6]
Strategi dakwah Wali Songo hingga saat ini pun masih banyak
diterapkan oleh para da’i da’iyah milenial mulai dari pendekatan hingga metode
dakwah yang digunakan. Langkah dakwah yang dilakukan oleh Veve Zulfikar
merupakan salah satu bentuk reaktualisasi dakwah Wali Songo melalui media
sosial. Tentunya pada era konsumtif media sosial saat ini strategi dakwah Wali
Songo tidak begitu saja ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia, karena Wali
Songo merupakan jalan utama dari penyebaran Islam di Indonesia. [7]
[1] Yuliyatun
Tajuddin, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8, no. 2
(November 15, 2015): h. 371, https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.
[2] Nurul
Syalafiyah and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs:
Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020): h. 43,
https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.
[3] Tajuddin,
“Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah.”
[4] “Strategi
Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,”
h. 50, accessed April 5, 2023,
https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.
[5] susmihara
Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah:
Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017): 151–168.
[6] fandi
Akhmad, “Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal
Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020): 252–272.
[7] Nurul
Kifayah and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era
Konsumtif Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021): 77–97.
DAFTAR PUSTAKA
Tajuddin
Yuliyatun, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8,
no. 2 (November 15, 2015), https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.
Syalafiyah
Nurul and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs:
Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020), https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.
“Strategi
Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda`: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,”
h. 50, accessed April 5, 2023, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.
susmihara
Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah:
Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017).
Akhmad fandi,
“Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal
Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020).
Kifayah Nurul
and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era Konsumtif
Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar