Kamis, 08 Juni 2023

PERAN WALISONGO DALAM DAKWAH ISLAM DI INDONESIA

A.     Peran Walisongo dalam Dakwah Islam di Indonesia

Walisongo telah melahirkan tradisi Islam Jawa yang dialogis, terbuka (inklusif), kultural, dan sufistik sehingga membentuk pola berpikir, sikap dan perilaku keagamaan yang fleksibel, namun tetap berpegang pada nilai-nilai ketauhidan.[1] Perjalanan hidup dan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di daerah Jawa, khususnya dan di wilayah nusantara pada umumnya, maka peran mereka dapat dibentuk seperti Bidang Pendidikan, Bidang Politik dan yang paling terkenal adalah Bidang Dakwah.[2]

1.         Bidang Pendidikan

Peran walisongo di bidang pendidikan terlihat dari aktivitas mereka dalam mendirikan pesantren, sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Bonang. Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Pulau Jawa. Di tempat inilah, ia mendidik pemuda-pemudi Islam sebagai kader, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh Pulau Jawa.

Sedangkan Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Santrinya banyak berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia mengirim juru dakwah terdidik keberbagai daerah di luar Pulau Jawa seperti Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore. Sunan Bonang memusatkan kegiatan pendidikan dan dakwahnya melalui pesantren yang didirikan di daerah Tuban. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putera raja Majapahit, yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan Suluk Sunan Bonang.

2.        Bidang Politik

Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar. Di antara mereka menjadi penasehat Raja, bahkan ada yang menjadi raja, yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Ampel sangat berpengaruh dikalangan istana Majapahit. Istrinya berasal dari kalangan istana dan Raden Patah (putra raja Majapahit) adalah murid beliau. Dekatnya Sunan Ampel dengan kalangan istana membuat penyebaran Islam di daerah Jawa tidak mendapat hambatan, bahkan mendapat restu dari penguasa kerajaan. Sunan Giri fungsinya sering dihubungkan dengan pemberi restu dalam penobatan raja. Setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan, wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya. Sunan Kalijaga juga menjadi penasehat kesultanan Demak Bintoro.

3.         Bidang Dakwah

Sudah jelas sepertinya, peran Walisongo cukup dominan adalah di bidang dakwah, baik dakwah melalui lisan. Sebagai mubalig, Walisongo berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Muria dalam upaya dakwahnya selalu mengunjungi desa-desa terpencil. Adapun sarana yang dipergunakan dalam dakwah berupa pesantren-pesantren yang dipimpin olehpara Walisongo dan melalui media kesenian, seperti wayang. Mereka memanfaatkan pertunjukan-pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam, dengan membungkuskan nafas Islam ke dalamnya. Syair dari lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah dan tidak menyekutukannya atau menyembah yang lain.

B.     BModel Penyebaran Islam Walisongo

Dalam perkembangan awal, Islam di Jawa mempunyai beberapa ulama yang mendapatkan julukan “Wali”, yang bertugas menyampaikan dakwah Islamiah untuk mempertahankan Islam dengan menggunakan pendekatan kultural. Pendekatan kultural ini lebih cocok bagi masyarakat Jawa sehingga penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa dapat berjalan cepat dan mengakar serta intensitas keislamannya plural dan multikultural.[3]

Budaya dan tradisi lokal itu tidak dianggap oleh Walisongo sebagai “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan, budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan sebagai media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam syariat. Walisongo berdakwah dengan mengunakan metode pendekatan bahasa kearifan lokal sebagai wujud empati dalam memperhatikan budaya dan adat yang ada, lalu berusaha menarik simpati mereka. Model dakwah yang digunakan oleh Walisongo diantaranya.[4]

1.      Model penyebaran dakwah

Para Walisongo dapat diketahui melalui situs-situs peninggalan yang berupa masjid, miniatur arsitek dalam bentuk bangunan menara atau situs-situs gapura, desain ukir tempat makam para wali, atau peninggalan berupa ajaran kitab-kitab kuno.

2.        Model dakwah melalui akulturasi bahasa

Sekaten atau dalam bahasa Arab dikenal dengan syahadatayn 2 yang sudah banyak dikenal oleh orang Jawa. Istilah ini muncul karena akulturasi dakwah Islam di Jawa. Menurut Titi Asri, istilah sekaten lahir di desa Glagah Wangi Demak. Sekaten merupakan gamelan yang gendingnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga dengan nafas Islami menjadi Rabulngalamin, Salatun, Solawatan, dan sebagainya. Gamelan Sekaten merupakan dakwah melalui kesenian. Istilah lainnya berasal dari istilah Jawa adalah kalimasada yang mempunyai arti syahadat (bersaksi atau bersumpah).

3.        Memahami pesan-pesan dakwah lewat pertunjukan seni

Salah satu pertunjukan seni yang dikenal dan disebarkan pada zaman para wali adalah wayang. Wayang terbuat dari kulit kerbau, diprakarsai Sunan Kalijaga pada zaman Raden Patah yang bertahta di Demak. Lukisan wayang yang menyerupai bentuk manusia terdapat pada relief Candi Penataran di Blitar. Oleh karena lukisan tersebut sangat mirip manusia dan dinilai bertentangan dengan syariat, maka Sunan Kalijaga menyiasatinya dengan mengubah lukisan yang menghadap ke depan menjadi lukisan menghadap miring.

C. C.  Kemajuan Peradaban Islam pada masa Walisongo

Pada abad ke XV M., pesantren telah didirikan oleh para penyebar agama Islam, diantaranya Wali Songo. Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam mendirikan masjid dan asrama untuk santri. Di Ampel Denta, Sunan Ampel telah mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam. Sunan Giri telah ngelmu kepada Sunan Ampel mendirikan lembaga pendidikan Islam di Giri.

Pada abad XVII, lembaga-lembaga tersebut semakin eksis, mengakar kuat di Nusantara. Akan tetapi, keberadaan lembaga-lembaga ini mulai terancam oleh bahaya kolonialisme yang menawarkan westernisasi, modernisasi, sekaligus kolonialisme. Lembaga tersebut ditantang kemampuannya untuk dapat menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Sementara itu, pesantren di Jawa tetap eksis dan sampai saat ini menjadi bagian dari sistem pendidikan Nasional di Indonesia. Jalur islamisasi periode awal kedatangan Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. [5]

Keberadaan Walisango sangatlah memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa pada khususnya. Adapun kemajuan Islam pada masa Periode walisongo adalah sebagai berikut: Nilai-Nilai dan Tradisi Keulamaan Nusantara, Keragaman Paham Kesufian Nusantara, Pesantren hasil asimilasi Pendidikan Hindhu-Budha, Islamisasi Nilai-Nilai Seni Budaya.[6]

Strategi dakwah Wali Songo hingga saat ini pun masih banyak diterapkan oleh para da’i da’iyah milenial mulai dari pendekatan hingga metode dakwah yang digunakan. Langkah dakwah yang dilakukan oleh Veve Zulfikar merupakan salah satu bentuk reaktualisasi dakwah Wali Songo melalui media sosial. Tentunya pada era konsumtif media sosial saat ini strategi dakwah Wali Songo tidak begitu saja ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia, karena Wali Songo merupakan jalan utama dari penyebaran Islam di Indonesia. [7]



[1] Yuliyatun Tajuddin, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8, no. 2 (November 15, 2015): h. 371, https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.

[2] Nurul Syalafiyah and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs: Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020): h. 43, https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.

[3] Tajuddin, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah.”

[4] “Strategi Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,” h. 50, accessed April 5, 2023, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.

[5] susmihara Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017): 151–168.

[6] fandi Akhmad, “Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020): 252–272.

[7] Nurul Kifayah and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era Konsumtif Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021): 77–97.


DAFTAR PUSTAKA

Tajuddin Yuliyatun, “Walisongo Dalam Strategi Komunikasi Dakwah,” Addin 8, no. 2 (November 15, 2015), https://doi.org/10.21043/addin.v8i2.602.

Syalafiyah Nurul and Budi Harianto, “Walisongo: Strategi Dakwah Islam Di Nusantara,” J-KIs: Jurnal Komunikasi Islam 1, no. 2 (December 31, 2020), https://doi.org/10.53429/j-kis.v1i2.184.

 “Strategi Kebudayaan: Penyebaran Islam Di Jawa | Ibda`: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya,” h. 50, accessed April 5, 2023, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/ibda/article/view/67.

 susmihara Susmihara, “Wali Songo Dan Perkembangan Pendidikan Islam Di Nusantara,” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017).

Akhmad fandi, “Walisongo Sebagai Fakta Sejarah Islam Nusantara,” Al-Munqidz: Jurnal Kajian Keislaman 8, No. 2 (July 28, 2020).

Kifayah Nurul and Luthfi Ulfa Niamah, “Reaktualisasi Dakwah Walisongo Pada Era Konsumtif Media Sosial,” Tasâmuh 19, no. 1 (June 8, 2021).

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...