A. Sejarah Perkembangan Islam Di Wilayah Asia Tenggara
Penduduk Asia Tenggara sangat beragam dalam hal bahasa, budaya,
ras, agama, dan aspek lainnya. Karena hampir seluruh penduduknya beragama Islam
di beberapa daerah, daerah-daerah tersebut telah berhasil mendirikan monarki
dan pemerintahan Islam. Penyebaran islam lainnya juga dapat dari segi
arsitektur, politik dan pemerintahan, budaya, pendidikan, hukum, pernikahan,
kesenian, dan berbagai aspek lainnya.[1]
Masyarakat Islam di Asia Tenggara dewasa ini dapat dijumpai di
semua negara, khususnya di negara-negara yang termasuk anggota ASEAN, tetapi
eksistensinya di sebagian negara merupakan kelompok masyarakat yang minoritas,
kecuali di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam mayoritas di kalangan
penduduknya beragama Islam. Perkembangan masyarakat Islam di Asia Tenggara,
terutama di negara-negara yang tergolong anggota ASEAN, juga kelihatan
bervariasi dalam arti berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, karena
proses masuknya Islam dan terbentuknya masyarakat yang menganut agama ini di
tiap negara di kawasan ini tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan, di samping
karena adanya faktorfaktor tertentu lainnya yang terdapat pada masing-masing negara,
boleh jadi menyebabkan timbulnya perbedaan dalam perkembangan itu. Sejarah
perkembangan Islam di Asia Tenggara dari masa ke masa dan Faktor-faktor yang
mempengaruhi dinamika perkembangan Islam di Asia Tenggara.[2]
B. Kemajuan Islam Di Asia Tenggara
Asia Tenggara adalah salah satu dari tujuh
wilayah budaya atau peradaban Islam, yang secara tegas terdiri dari wilayah
budaya Islam Arab, Islam Persia, Islam Turki, Islam Afrika, Islam anak benua
India, dan Islam Asia Tenggara (Melayu). Perkembangan Islam di Asia Tenggara
dapat dibagi menjadi tiga fase; Pertama, terhentinya fase pedagang Muslim di
pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara; kedua, keberadaan komunitas muslim di
beberapa tempat di nusantara; Ketiga adalah fase berdirinya kerajaan-kerajaan
Islam.Perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara tidak lepas dari Islamisasi
besar-besaran Kerajaan Islam (Kesultanan).
Kerajaan-kerajaan Islam yang dimaksud antara
lain Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Malaka, Kesultanan Aceh Darussalam dan
Palembang. Kesultanan Demak terletak di pulau Jawa, disusul Kesultanan Panjang,
Kesultanan Mataram, Kesultanan Cirebon dan Banten. Contoh lainnya adalah
Kerajaan Ternate. Islam datang ke kerajaan di Maluku pada tahun 1440. Rajanya
adalah seorang Muslim bernama Bayang Ullah. Meskipun raja masuk Islam, dia
tidak menampilkan Islam sebagai institusi politik. Kesultanan Ternate baru menjadi
lembaga politik Islam pada tahun 1486 dengan Kerajaan Ternate dan sultan
pertamanya, Sultan Zainal Abidin. Ada tiga faktor
yang menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada masa
kejayaannya, pertama, faktor religi (keagamaan), kedua, penghayatan ilmu
pengetahuan, dan ketiga, pemajuan (perlindungan dan dukungan) terhadap berbagai
tokoh ilmiah oleh penguasa.[3]
C. Modernisasi Islam Di Asi Tenggara
Pengertian modern bukan saja mengacu
kepada zaman tetapi yang terpenting adalah cara berfikir dan bertindak.
Modernisasi di tandai dengan 2 ciri utama yaitu rasionalisasi dan
teknikalisasi. Dalam masyarakat barat kata medernisasi memiliki arti pikiran, aliran,
gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat- istiadat,
institusi-institusi lama agar semua itu dapat disesuaikan dengan
pendapat-pendapat dan kaedaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan
modern.
Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam timbul terutama sebagai
hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dan barat. Karena kontak itu umat
islam abad XIX sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan dengan
barat. Gerakan pembaharuan inipun akhirnya merambah pula kedunia politik.
Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan Islamisme (persatuan
islam sedunia) yang awalnya gagasan ini di usung oleh wahabiyyah dan sanusiah.
Namun baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir islam terkenal,
Jamalaluddin Al-Afghani (1839-1897 M) asal Afganistan.[4]
Pada masa 8 bulan peredaran, majalah ini
berhasil menanamkan benih-benih modernisasi di kalangan umat Islam. Tersebar
luas di seluruh dunia islam, tatkala murid Abduh yg bernama Rasyid Ridha
menerbitkan majalah Al-Manar di Mesir. Penyebaran dan pengaruh pembaharuan
islam modern di asia sejak awal abad ke-20, dan dengan gagasan Jamaluddin
Al-afghani dan Muhammad Abduh menjadi lebih tersebar luas di dunia Islam.[5]
[1] Suhaimi
Suhaimi et al., “Pendidikan sejarah Islam Asia Tenggara: overview penyebaran
Islam melalui Bibliometrik,” n.d., h 278.
[2] “367-Article
Text-693-1-10-20150408.Pdf,” n.d., h.114.
[3]
Muhammad Arbain, “DinamikaPerkembangan Pendidikan
Islam di Asia Tenggara” Borneo
International Journal of Islamic Studies, 2019, vol 2 (1).
[5] https://id.scribd.com/document/547919764/makalah-modernisasai-islam
DAFTAR PUSTAKA
“367-Article
Text-693-1-10-20150408.Pdf,” n.d.
Arbain Muhammad, “DinamikaPerkembangan
Pendidikan Islam di Asia Tenggara” Borneo
International Journal of Islamic Studies, 2019, vol 2 (1).
https://id.scribd.com/document/465312993/Modernisasi-Islam-di-Asia-Tenggara
https://id.scribd.com/document/547919764/makalah-modernisasai-islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar