Kamis, 08 Juni 2023

KERAJAAN ISLAM SEBELUM PENJAJAHAN BELANDA

A.    A. Kerajaan Islam di Nusantara Sebelum Penjajahan Belanda

1.      Kerajaan Islam di Sumatera.

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kemunculan sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahana abad ke 13 M. Bukti berdirinya kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M itu didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.

Pendapat bahwa Islam sudah berkembang sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh cerita Cina dan pendapat Ibn batutah, seorang pengembara terkenal asala Maroko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H / 1345 M) mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Samudera Pasai mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir seabad lamanya disiarkan di sana.[1]

2.      Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M. Pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit. Ada pula yang berpendapat bahwa kerajaan Demak berdir pada tahun 1518 M. Berdirinya kerajaan Islam Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut maka penyiaran agama Islam semakin luas serta pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju. Sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh yaitu dengan mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu gelar Sunan dengan ditambah nama daerahnya, seperti Sunan Gunung Jati.[2]

Kedatangan Islam ke Indonesia pada abad ke-12-13 M atau ke-9 atau bahkan abad ke-8 M, mampu mewarnai peradaban baru bernapaskan ajaran Islam salah satunya Kerajaan Demak. Sejak berdirinya pemerintahan Kerajaan Islam Demak, para wali yang memainkan perananya ikut di dalam politik Islamisasi Jawa, tidak hanya berekspansi di wilayah Pulau Jawa saja, akan tetapi juga melakukan penaklukkan-penaklukkan terhadap daerah yang belum Islam, salah satunya seperti Palembang. Usaha penaklukkan itu melebar hingga sampai ke Samudera[3]

3.      Kerajaan Islam di Sulawesi

Kerajaan yang mula-mula berdasarkan Islam di Sulawesi adalah kerajaan Kembar Gowa Tallo. Rajanya bernama I. Mallingkaang Daeng Manyonri yang kemudian berganti nama dengan Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul di belakangnya raja Gowa bernama Sultan Aludin. Dalam waktu dua tahun seluruh rakyatnya telah memeluk Islam. Pengaruh raja Gowa dan Tallo dalam dakwah Islam sangat besar terhadap raja-raja kecil lainnya. Beberapa ulama besar yang membantu Dato’ Ri Bandang ialah Dato’ Sulaiman alias Dato’ Pattimang dan Dato’ Ri Tirto alias Khatib Bungsu.Diperkirakan bahwa mereka itu juga berasal dari Minangkabau. Dari Sulawesi Selatan, agama Islam mengembang ke Sulawesi Tengah dan Utara. Islam masuk daerah Manado pada zaman Sultan Hasanuddin, ke daerah Bolang Mangondow di Sulawesi Utara pada tahun 1560 M, ke Gorontalo pada tahun 1612 M. [4]

Adapun akselerasi proses permulaan islamisasi di Sulawesi Selatan sangat ditunjang dengan sistem pendekatan dan metode dakwah yang dilakukan oleh tiga muballigh dari Minangkabau, yaitu Datuk ri Tiro, Datuk Patimang, dan Datuk ri Bandang. Mereka menggunakan pendekatan akomodatif, adaptasi struktural dan kultural, hal ini memberikan penegasan bahwa Islamisasi di Sulawesi Selatan adalah melalui pintu istana raja.[5]

4.      Kerajaan Islam di Kalimantan.

Islam mulai masuk di Kalimantan pada abad ke 15 M, dengan cara damai, di bawa oleh muballigh dari Jawa Sunan Bonang dan Sunan Giri mempunyai santri-santri dari Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Perkembangan Islam mulai mantap setelah berdirinya kerajaan Islam Banjar Masin di bawah pimpinan Sultan Suriansyah sehingga masjid-mesjid di bangun dihampir setiap Desa. Pada tahun 1710 M (tepatnya 13 safar 1122 H) di zaman kerajaan Islam Banjar ke 7 di bawah pimpinan Sultan Tahmililah (1700-1748) telah lahir seorang ulama terkenal yaiatu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di desa Kalampayan Martapura. [6]

Kedatangan Islam di Kalimantan tentunya tidak luput dari jaringan Islamisasi Nusantara. Tidak dapat diketahui dengan pasti kapan masuknya Islam ke Kalimantan Selatan. Namun, hal tersebut tidak lepas dari jaringan perdagangan Nusantara yang salah satu penggeraknya adalah para pedagang yang telah memeluk agama Islam.[7]

5.      Kerajaan Islam di Maluku

Islam masuk ke Maluku di bawa oleh Muballigh dari Jawa sejak Zaman Sunan Giri dari Malaka. Raja Maluku pertama yang masuk Islam adalah Sultan Ternate yang bernama Marhum pada tahun 1465-1486 M, atas pengaruh Maulana Husein saudagar dari Jawa.Raja Maluku yang terkenal dibidang pendidikan dan dakwah Islam ialah Sultan Zainul Abidin tahun 1486- 1500 M. Ketika bangsa Belanda yang beragama Kristen protestan datang di Indonesia mulai pula usaha memprotestan penduduk di Indonesia pada awal abad 17 M (Tahun 1600 M). Pemerintah Belanda berhasil memprotestan rakyat Indonesia secara massal di Batak.Manado dan Ambon, sedangkan Katholik berhasil di daerah Nusa Tenggara Timur yang mendapat pengaruh dari Portugis di Timur-Timur.[8]

Penerapan Islam di Maluku Utara yang kuat dan terstruktur adalah masa Zainal Abidin melalui lembaga-lembaga kerajaan di Maluku Utara yang disebut Bobato akhirat dan Bobato dunia. Sedangkan di daerah- daerah lain terdapat Imam yang dibantu empat orang khatib dan delapan orang Modim pada setiap distrik. Perkembangan ini merupakan suatu kulturasi masyarakat Maluku Utara yang sejak masa kolonial sampai masa Zainal Abidin. Pada akhir abad XIX proses islamisasi sudah dipengaruhi oleh unsur politik dan ekonomi, fase awal perkembangan Islamisasi Maluku utara tidak memberikan landasan yang cukup untuk pembentukan Negara Islam.[9]

B. B.   Sistem Birokrasi Kerajaan Islam

Birokrasi pertama kali dijelaskan di bagian awal abad kedua puluh oleh Max Weber, seorang sosiolog Jerman bidang hukum, ekonomi, sejarah, dan filsafat. Birokrasi menurut Max Weber merupakan suatu organisasi besar yang memiliki otoritas legal rasional, legitimasi, ada pembagian kerja dan bersifat imperasional. Kerajaan-kerajaan tradisional di Indonesia, pada umumnya terbagi dalam dua kategori, yaitu kerajaan maritim dan kerajaan pedalaman atau agraris. Dalam kerajaan maritim, birokrasi ditujukan untuk melayani sebuah ekonomi perdagangan, sedangkan kerajaan agraris memfokuskan pada ekonomi pertanian. Namun perlu diketahui munculnya birokrasi modern merupakan sebuah perjalalanan panjang dari suatu negara, yang mana sebelumnya menggunakan sistem birokrasi tradisional.[10]

C.    C. Kondisi Sosial Masyarakat Sebagai Warisan Kolonial

Kondisi sosial masyarakat yang ada di gampong (penduduk asli Banda Aceh), dimana masyarakatnya masih kental dengan sikap solidaritas antar sesama, dan setiap kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di gampong sangat berjalan dan dipelihara dengan baik. Kebudayaan di kota Banda Aceh masih ada dan dijaga sampai sekarang secara turun temurun serta adat istiadat yang terus dilestarikan. Kebudayaan tersebut masih dilakukan sampai sekarang seperti beberapa perayaan yang dilaksanakan, yaitu seperti khanduri asyura yang dilaksanakan setiap 10 Muharram, khanduri molod yang dilaksanakan di masjid, khanduri apam yang dilaksanakan di rumah masyarakat. Kebudayaan lain yang ada di kota Banda Aceh pada saat ini yang masih dapat kita lihat seperti peninggalan kolonial. peninggalan tersebut dijadikan sebagai objek wisata budaya seperti Museum Aceh, Masjid Raya Baiturrahman dan lain-lain. Dari beberapa peninggalan tersebut masyarakat dari dalam daerah maupun luar daerah bahkan wisatawan asing datang untuk mengunjungi serta mempelajari sejarah dari peninggalan tersebut.[11]



[1]  Rasyid Zirani “Kerajaan Islam di Indonesia Sebelum Penjajahan Belanda

[2] Hasnida, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme” Vol. XVI No. 2 Oktober 2017https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

[3] Naily Fadhilah, “Jejak Peradaban dan Hukum Islam Masa Kerajaan Demak” 2020 https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=kerajaan+Islam+di+Jawa+demak&btnG=#d=gs_qabs&t=1683535933722&u=%23p%3DIzNkSNBrA8AJ

[4] Hasnida, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme” Vol. XVI No. 2 Oktober 2017 https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

[5] Anzar Abdullah, “Islamisasi di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Sejarah” Paramita Vol. 26, No. 1 Tahun 2016 https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/viewFile/5148/4180

[6] Hasnida, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme” Vol. XVI No. 2 Oktober 2017 https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

[7] Muhammad Azmi, “Islam di Kalimantan Selatan Pada Abad ke-15 Sampai Abad ke-17” YUPA: Historical Studies Journal No. 1 Januari 2017  https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=kerajaan+islam+di+kalimantan&oq=kerajaan+islam+di+kal#d=gs_qabs&t=1683532482963&u=%23p%3DZTCTqBU8-xYJ

[8] Hasnida, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme” Vol. XVI No. 2 Oktober 2017https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

[9] Taufik Abdullah, “Dari Timur Islam Nusantara, Maluku Utara” Vol. 9 No. 1 Edisi Juni 2018 http://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/humano/article/view/898.

[10] Yudi Setianto, “Birokrasi Tradisional di Jawa dalam Perspektif Sejarah” Paramita Vol. 20 No. 2 Juli 2010 https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0,5&q=mengetahui+munculNya+birokrasi+KERAJAAN+Islam#d=gs_qabs&t=1683533483343&u=%23p%3DAH86l6c-6ZkJ

[11] Aisarah Rahmadhana, “Peninggalan Warisan Kolonial Belanda di Banda Aceh Sebagai Wisata Budaya” 2020 https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/15331/1/Aisarah%20Rahmadhana%2C%20150501024%2C%20FAH%2C%20SKI%2C%20085372883015.pdf


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah Anzar, “Islamisasi di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Sejarah” Paramita Vol. 26, No. 1 Tahun 2016 https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/viewFile/5148/4180

Abdullah Taufik, “Dari Timur Islam Nusantara, Maluku Utara” Vol. 9 No. 1 Edisi Juni 2018 http://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/humano/article/view/898.

Azmi Muhammad, “Islam di Kalimantan Selatan Pada Abad ke-15 Sampai Abad ke-17” YUPA: Historical Studies Journal No. 1 Januari

Fadhilah Naily, “Jejak Peradaban dan Hukum Islam Masa Kerajaan Demak” 2020 https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=kerajaan+Islam+di+Jawa+demak&btnG=#d=gs_qabs&t=1683535933722&u=%23p%3DIzNkSNBrA8AJ

Hasnida, “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme” Vol. XVI No. 2 Oktober 2017https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

https://pdfs.semanticscholar.org/55e8/e1a8d20d064bcd07197b68ec12465675c358.pdf

Rahmadhana Aisarah, “Peninggalan Warisan Kolonial Belanda di Banda Aceh Sebagai Wisata Budaya” 2020 https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/15331/1/Aisarah%20Rahmadhana%2C%20150501024%2C%20FAH%2C%20SKI%2C%20085372883015.pdf

Setianto Yudi, “Birokrasi Tradisional di Jawa dalam Perspektif Sejarah” Paramita Vol. 20 No. 2 Juli 2010 https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0,5&q=mengetahui+munculNya+birokrasi+KERAJAAN+Islam#d=gs_qabs&t=1683533483343&u=%23p%3DAH86l6c-6ZkJ

Zirani Rasyid “Kerajaan Islam di Indonesia Sebelum Penjajahan Belanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...