Jumat, 09 Juni 2023

ISLAM DI INDONESIA MASA MODERN DAN KONTEMPORER

A.     Islam di Masa Modern dan Kontemporer

Islam di Indonesia pada masa modern dan kontemporer telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan yang signifikan. Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam memiliki pengaruh yang luas dalam kehidupan masyarakat dan dinamika sosial- politik negara ini. Di bawah ini adalah beberapa aspek terkait Islam di Indonesia pada masa modern.

1.       Gerakan Reformasi Islam : Pada awal abad ke-20, terjadi gerakan reformasi Islam di Indonesia yang dikenal sebagai "Pembaharuan" atau "Reformasi Islam". Gerakan ini dipelopori oleh tokoh seperti Muhammad Abduh.[1]

2.      Islam dan Modernitas di Indonesia : Sekitar awal abad ke‐20, ide‐ide modernitas terlihat telah turut mewarnai arus pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia dengan beberapa tokoh seperti misalnya, Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) yang sempat menimba ilmu di negeri pusat faham Wahabi serta berinteraksi dengan arus pemikiran baru Islam dari Mesir. Perkembangan modernisme Islam di Indonesia merupakan wujud respon yang pertama, terhadap kemunduran Islam sebagai agama karena praktek‐praktek penyimpangan. Yang kedua, keterbelakangan para pemeluknya dan yang terakhir adanya invansi politik, kultural dan intelektual dari dunia Barat. [2]

3.      Pendidikan Islam Modern : Islam menekankan bahwa pendidikan merupakan kewajiban agama dimana proses pembelajaran dan transmisi ilmu sangat bermakna bagi kehidupan manusia. Untuk mendapatkan hasil maksimal dari sebuah proses pendidikan Islam tersebut, ada dua hal sebagai “grand project” dalam membangun pendidikan Islam yang mampu menjadi tameng era modern.[3] Pendidikan Islam di Indonesia juga mengalami perkembangan signifikan dalam konteks modern.[4]

4.      Ekonomi Syari’ah : Indonesia memiliki sektor keuangan syariah yang berkembang pesat, termasuk bank syariah, asuransi syariah, dan lembaga keuangan syariah lainnya. Ekonomi Syariah di Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan pada masa modern. Ada beberapa aspek penting dan perkembangan dalam ekonomi syari’ah di Indonesia pada masa modern yaitu Lembaga Keuangan Syari’ah, Pasar Modal Syari’ah, Pengembangan Produk Keuangan Syari’ah, Regulasi dan Dukungan Pemerintah.[5]

5.      Politik Islam : Politik Islam di Indonesia pada masa modern mencakup peran gerakan politik Islam, partai politik Islam, peran Islam dalam kebijakan publik, dan dinamika politik yang melibatkan agama. Beberapa partai politik berbasis Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berperan dalam pemilihan umum dan pembuatan kebijakan di Indonesia.[6] Persaingan politik antaragama, isu-isu agama dalam pemilihan umum, dan peran agama dalam gerakan sosial menjadi bagian dari dinamika politik di Indonesia.[7]

B.     Persoalan Peta Politik Umat Islam

Pada peta politik umat Islam, dapat ditampilkan informasi seperti wilayah di mana partai politik Islam memiliki kehadiran atau dukungan yang signifikan, daerah- daerah dengan mayoritas penduduk Muslim, atau wilayah-wilayah di mana kelompok-kelompok Islam berperan dalam kehidupan politik secara aktif. Peta ini dapat membantu dalam memahami pemahaman politik, orientasi politik, dan preferensi partai politik atau kelompok Islam di suatu wilayah. Peta politik umat Islam dapat bervariasi tergantung pada konteks dan wilayah yang sedang dipelajari. Persoalan politik dan spektrum partai politik Islam dapat berbeda dari satu negara atau wilayah ke negara atau wilayah lainnya, dan peta politik umat Islam dapat mencerminkan keragaman tersebut.[8] 

 C.     Hubungan Islam Dengan Budaya Lokal

Sejak adanya Islam, Islam telah memainkan peranan sebagai salah satu agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Disinilah, Islam mampu membuktikan dirinya sebagai ajaran yang flexsibel di dalam memahami kondisi kehidupan suatu masyarakat.[9]

Di Indonesia, agama Islam merupakan hasil dari proses dakwah yang dilaksanakan secara cultural, sehingga mampu berkembang dan menyebar serta banyak dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia dalam waktu yang cukup singkat. Kehadiran Islam di Indonesia yang pada saat itu budaya lokal sudah dianut masyarakat Indonesia, Islam mampu masuk secara halus tanpa kekerasan, hal ini berkat dari ajaran Islam yang sangat menghargai akan pluralitas suatu masyarakat.[10] Dalam Islam juga mengenal akan adanya konsep tauhid, yaitu suatu konsep yang berisi ajaran bahwa Tuhan adalah pusat dari segala sesuatu, dan manusia harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia.[11]

Menurut Hildred Geertz, sebagaimana dikutip dari Zada. Di Indonesia terdapat lebih dari 300 etnis. Masing-masing etnis memiliki budayanya sendiri dengan menggunakan lebih dari 250 bahasa. Selain diperkaya dengan agama asli penduduknya, hampir semua agama dan budaya berada di bumi Nusantara. Di mana sifat ajaran agama Islam yang fleksibel, selalau menyesuaikan diri dengan keadaan suatu masyarakat.[12]

Kebudayaan sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah peraktik keagamaan. Di sisi lain agama sebagai ajaran leluhur dari Tuhan, akan membentuk sebuah tatanan budaya baru. Keanekaragaman ini, para ahli menyebutnya sebagai “ekspresi ajaran” atau “kebudayaan”. Faktanya sejarah Islam dan budaya lokal bersifat saling mempengaruhi, dikarenakan keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama melambangkan simbol ketaatan kepada sang khalik sedangkan kebudayaan mengandung nilai dan simbol agar manusia bisa hidup di dalamnya. Jadi, hubungan Islam dengan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana Islam berkembang karena menghargai budaya lokal, dan budaya lokal tetap eksis karena mengalami pembaruan dengan ajaran Islam.[13]

 D.     Perkembangan Pemikiran Para Intelektual Islam

Pemikiran para intelektual Islam merupakan gagasan para pemikir Islam atau ulama yang bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah untuk menjawab persoalan- persoalan manusia dan masyarakat yang timbul. Perkembangan pemikiran Islam disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu:

1.      Sebagai usaha untuk memahami atau mengambil istinbath (intisari atau pengajaran) hukum-hukum agama mengenai hubungan manusia dengan penciptanya dalam masalah ibadah maupun muamalah.

2.      Sebagai usaha untuk mencari jalan keluar (solusi) dari berbagai persoalan kemasyarakatan yang belum ada pada zaman Rasulullah SAW dan zaman sahabat, atau untuk memperbaiki perilaku tertentu berdasarkan ajaran Islam.

3.      Sebagai penyelaras atau penyesuaian antara prinsip-prinsip agama Islam dan ajaran ajarannya dengan pemikiran asing (diluar Islam) yang berkembang dan mempengaruhi pola pemikiran umat Islam.

4.      Sebagai pertahanan untuk menjaga kemurnian akidah Islam dengan menolak akidah atau kepercayaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan menjelaskan akidah Islam yang sebenarnya.[14]

Perkembangan pemikiran Islam dapat diklasifikasikan dalam 4 model kecenderungan, yaitu:

1.     Fundamentalis, yaitu model pemikiran yang sepenuhnya percaya pada doktrin Islam sebagai satu-satunya alternatif bagi kebangkitan Islam dan manusia.

2.    Tradisionalis (salaf), yaitu model pemikiran yang berusaha berpegang pada tradisi. Bagi mereka, segala persoalan umat telah diselesaikan secara tuntas oleh para ulama terdahulu.

3.    Reformis, yaitu model pemikiran yang berusaha merekonstruksi ulang warisan budaya Islam dengan cara memberi tafsiran baru.

4.       Modernis, yaitu model pemikiran yang hanya mengakui sifat rasional ilmiah dan menolak kecenderungan mistik. Menurutnya, tradisi masa lalu sudah tidak relevan, sehingga harus ditinggalkan.[15]

Hamzah al-Fansuri adalah seorang ulama besar dan sebagai seorang tokoh sufi awal paling penting di wilayah Melayu-Indonesia. Syaikh Hamzah al-Fansuri dan muridnya, Syamsuddin al-Sumatrani adalah pelopor tasawuf panteisme yang sangat berpengaruh dengan murid dan pendukung yang cukup banyak. Namun, setelah al- Sumatrani dan Sultan wafat perkembangan tersebut mengalami kemunduran. Karena Sultan Iskandar II naik takhta, Syaikh Nuruddin al-Raniri yang telah menjalin hubungan baik dengan Sultan diangkat menjadi mufti.[16]

Pada abad ke-17 Syaikh Nuruddin al-Raniri diangkat menjadi mufti, pada masa ini terjadi perubahan wacana keislaman terkait sufisme, yakni mulai tumbuh wacana tasawuf ortodok. Pada abad ke-18 neo-sufisme menjadi tradisi intelektual Islam yang semakin mendapat tempat di masyarakat muslim Nusantara. Diantara para ulama yang paling berpengaruh dalam gerakan neo-sufisme adalah Nuruddin al- Raniri, Abdurrauf al-Sinkili, Muhammad Yusuf al-Maqassari, dan Syekh Ahmad al- Mutamakkin (Jawa).[17]

 Al-Raniri merupakan orang yang bermartabat tinggi, beliau seorang sufi, ahli teologi, dan ahli faqih (hukum). Beliau merupakan salah seorang penyebar pembaruan Islam di Nusantara. Abdurrauf Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili merupakan seorang ulama pertama di wilayah Melayu-Indonesia yang menulis mengenai fiqh mu’amalat. Melalui Mir’at al-Thullab, beliau menunjukkan bahwa doktrin-doktrin hukum Islam tidak terbatas pada ibadah, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari- hari. Selanjutya, Yusuf al-Maqassari merupakan ulama yang luar biasa dan seorang sufi. al-Maqqasari memainkan peranan penting dalam politik Banten. Konsep utama tasawuf al-Maqassari adalah pemurnian kepercayaan (a’qidah) pada Keesaan Tuhan.

Abdus Samad al-Palimbani merupakan orang yang berpengaruh di Melayu Nusantara dalam menyebarkan paham neo-sufisme. Arsyad al-Banjari adalah orang yang melakukan Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Selain itu, al-Mutamakkin mendialektikakan tradisi lokal, dan ini sebagai bentuk upaya al-Mutamakkin menjernihkan Islam Jawa dengan kebenaran bertauhid.[18]

 

 



1 Azyumardi Azra, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian “Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth Centuries" (The Muslim World, 2004), 94(3), 313–339.

2 Nyong Eka Teguh Iman Santosa, “Ahmad Dahlan, Islam, dan Modernitas di Indonesia,” Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 1, no. 1 (2003).

3 Zamrony, Arah Baru Pendidikan Islam: Membangun Epistemologi Pendidikan Islam Monokhotomik,” 2010.

4 Zainal Abidin Bagir, Pendidikan Islam di Indonesia: Transformasi dan Tantangan Masa Depan.”

5 M. Ariff, “Islamic Banking and Finance in Indonesia: A Critical Analysis,” t.t.

6 Ahmad Najib Burhani, “Politik Islam di Indonesia: Transformasi dan Kontestasi,” t.t.

7 Leo Suryadinata, Religion, Politics, and Democracy in Indonesia: A Critical Survey of Recent Developments” 37, no. 3 (t.t.).

8 Abdul Fadhil, Peta Pemikiran Politik Islam Modern” 8, no. 1 (2012).

9 Deden Sumpena, “Islam dan Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan Budaya Sunda 6, no.

19 (2012).

10 Sumpena.

11 Sumpena, 107.

12 Arifai, “Akulturasi Islam dan Budaya Lokal.,” Yogyakarta: UNY Press 10, no. 2 (2017).

13 Arifai.

              14 Mugiyono, “Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia: Perkembangan Pemikiran dan Peradaban Islam dalam Perspetif Sejarah,” Yogyakarta: UNY Press 14, no. 1 (2013): 5.

15 Miftahuddin, “Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia,” 2017.

16 Miftahuddin.

17 Miftahuddin.

   18 Miftahuddin.


DAFTAR PUSTAKA

Azra Azyumardi, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian “Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth Centuries" (The Muslim World, 2004), 94(3).

Nyong Eka Teguh Iman Santosa, “Ahmad Dahlan, Islam, dan Modernitas di Indonesia,” Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 1, no. 1 (2003).

Zamrony, Arah Baru Pendidikan Islam: Membangun Epistemologi Pendidikan Islam Monokhotomik,” 2010.

Bagir Abidin Zainal, Pendidikan Islam di Indonesia: Transformasi dan Tantangan Masa Depan.”

Ariff M, “Islamic Banking and Finance in Indonesia: A Critical Analysis,” t.t.

Burhani Najib Ahmad, “Politik Islam di Indonesia: Transformasi dan Kontestasi,” t.t.

SuryadinataLeo, Religion, Politics, and Democracy in Indonesia: A Critical Survey of Recent Developments” 37, no. 3 (t.t.).

Fadhil Abdul , Peta Pemikiran Politik Islam Modern” 8, no. 1 (2012).

Sumpena Deden,“Islam dan Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan Budaya Sunda 6, no. 19 (2012).

Arifai, “Akulturasi Islam dan Budaya Lokal.,” Yogyakarta: UNY Press 10, no. 2 (2017).

Mugiyono, “Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia: Perkembangan Pemikiran dan Peradaban Islam dalam Perspetif Sejarah,” Yogyakarta: UNY Press 14, no. 1 (2013).

Miftahuddin, “Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia,” 2017.

 

 

ISLAM DI INDONESIA: ZAMAN MODERN DAN KONTEMPORER

A.    Awal mulanya terbentuk kerajaan islam di kalimantan barat

Kalimantan Barat telah dikenali sejak dahulu sebagai kawasan pusat penyebaran dakwah Islam. Di kawasan ini terdapat 21 kesultanan Islam yang masih dapat diketemukan bukti-bukti arkeleoginya sehingga kini.18 Kepesatan penyebaran Islam di kawasan ini, tidak dapat dipisahkan dari adanya jaringan ulama-ulama Nusantara dan ulama-ulama Mekah yang telah terjalin mesra sejak abad ke-17. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat ulama-ulama yang menjadi rujukan tidak saja ulama-ulama Nusantara namun juga ulama-ulama dunia Islam pada umumnya. Diantaranya adalah AhmadKhatib al-Sambasi (1802-1879 M), Muhammad Basuni bin Muhammad `Imran (1885-1953 M) dan Guru Haji Isma‟il Mundu (1870 – 1957 M).[1]

Perkembangan Islam di Kalimantan menggeser keberadaan agama Hindu Buddha dan berdampak pada munculnya Kerajaan Islam di Kalimantan. Terdapat enam kerajaan islam di kalimantan barat yaitu, Kerajaan Selimbau, kerajaan ini didirikan oleh orang Dayak yang benama Guntur Baju Binduh atau Raja Abang Bhindu sekitar abad ke-7. Yang kedua ialah kerajaan mempawah, Asal usul nama Mempawah dari istilah "Mempauh", sejenis pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian dikenal dengan sungai Mempawah.

B. BTerjalinnya hubungan antara kerajaan islam

Pada masa lampau di Kalimantan Barat terdapat sejumlah kerajaan baik besar maupun kecil. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut antara lain kerajaan sambas, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Kubu, Kerajaan Matan, Kesultanan Sintang, dan lain sebagainya. Di Kalangan masyarakat Kalimantan Barat, kawasan Sambas dijuluki sebagai “Serambi Mekah”.

Sebelum Islam datang, kerajaan Sambas selalu dikaitkan dengan kekuasaan Hindu/Buddha, meskipun belum teridentifikasi nama kerajaannya. Dalam pupuh 13 Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Sambas merupakan satu negeri yang merupakan negara taklukan Majapahit. Informasi terawal Islam datang pertama kali ke Sambas pada awal abad ke-15 dibawa oleh orang Cina. Menurut informasi itu pada tahun 1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi—sebuah komunitas Cina. Kemudian pada tahun 14636 Laksamana Cheng Ho yang terkenal itu, atas perintah Kaisar Cheng Tsu atau Jung Lo (kaisar keempat Dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi ke Nan Nyang. Peralihan kerajaan Sambas kepada Islam dapat ditelusuri dari kedatangan Raja Tengah dari Brunei. Raja Tengah adalah putra Sultan Brunei ke-9 yaitu Sultan Muhammad Hasan yang berkuasa antara tahun 1582-1602.7 Ia terkenal gagah berani dan giat menyebarkan agama Islam. Sepeninggal Sultan Muhammad Hasan kesultanan Brunei diperintah oleh putranya Sultan Abdul Jalil Akbar yang merupakan saudara tua Sultan Tengah.[2]

C. Kondisi sosial keagamaan masyarakat

kampung-kampung tertentu di daerah ini, Islam sudah menjadi agama mayoritas di kalangan penduduk. Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya publikasi di samping karena peralihan agama di tempat ini tidak serta-merta menyebabkan peralihan identitas. Berbeda keadaannya dengan yang terjadi lebih dari 150 tahun yang lalu di Kapuas Hulu misalnya, penduduk asli yang menganut agama Islam otomatis menjadi Melayu. Salah satu bagian komunitas asli Kalimantan Barat yang terus melakukan konversi agama asal kepada Islam adalah orang Kanayatn. Satu komunitas masyarakat asli Kalimantan Barat yang jumlahnya relatif banyak yang terdapat di Kabuapten Landak. [3]

Masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat tidak keberatan hidup bertetangga dengan penganut agama lain dan sebesar 26.25% sangat tidak keberatan hidup bertetangga dengan penganut agama lain. Responden yang menyatakan keberatan dan sangat keberatan jika hidup bertetangga dengan penganut agama lain sebesar 1%. Tingkat toleransi antar umat beragama di Provinsi Kalimantan Barat masih sangat baik. Toleransi yang ada di masyarakat tidak sebatas hidup berdampingan dengan penganut agama lain akan tetapi juga masalah ibadah. Ini menunjukan untuk membangun relasi sosial antar kelompok agama yang ada sudah signifikan untuk disebut rukun. [4]

Sistem-sistem sosial mempengaruhi kerukunan umat beragama antaretnik di Provinsi Kalimantan Barat. Sistem-sistem sosial masyarakat tersebut berupa sistem sosial yang terbangun dari kelompok-kelompok berdasarkan etnik Melayu, Dayak, Bugis, Madura, Jawa, dan komunitas etnik lainnya. Paguyuban etnik mulai membuka diri dan toleransi atarumat beragama berjalan cukup baik, karena merasa kesadaran hidup rukun mendorong tumbuhnya kerukunan antar umat beragama di Kalimantan barat Interaksi antar komunitas etnik dan antar paguyuban etnik tersebut terdapat hubungan umat beragama antar etnik dari berbagai aspek yaitu hubungan perekonomian dan mata pencaharian, hubungan pertemanan, ketetanggaan, dan identitas etnik, hubungan antar kelompok agama, dan hubungan organisasi politik.[5]



                [1] Didik M Nur Haris, “Akar Tradisi Politik Sufi Ulama Kalimantan Barat Abad Ke-19 Dan 20.”

[2] Moh. Haitami Salim, Hermansyah, Yapandi, Erwin, Eka Hendry, Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain Pontianak, Tahun 2010.

                [3] Hermansyah, “Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam Muslim Kanayatn Dayak Slim Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen Suprapto No. 19 Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March 2013): 341.

                [4] Arif Gunawan Santoso, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah, “Analisis Indeks Kerukunan Umat Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN: 1412-1697 e-ISSN: 2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28 (Desember 2022).

                [5] arnis Rachmadhani, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat,” Religious Research and Development, Semarang Volume 2, Nomor 1 (June 2018).


DAFTAR PUSTAKA

Haris Nur M Didik, “Akar Tradisi Politik Sufi Ulama Kalimantan Barat Abad Ke-19 Dan 20.”

Salim Haitami Moh, Hermansyah, Yapandi, Erwin, Eka Hendry, Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain Pontianak, Tahun 2010.

Hermansyah, “Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam Muslim Kanayatn Dayak Slim Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen Suprapto No. 19 Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March 2013).

Santoso Gunawan Arif, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah, “Analisis Indeks Kerukunan Umat Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN: 1412-1697 e-ISSN: 2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28 (Desember 2022).

Rachmadhani Arnis, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat,” Religious Research and Development, Semarang Volume 2, Nomor 1 (June 2018).

 

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...