A. Awal mulanya terbentuk kerajaan islam di kalimantan barat
Kalimantan Barat telah dikenali sejak dahulu sebagai kawasan pusat
penyebaran dakwah Islam. Di kawasan ini terdapat 21 kesultanan Islam yang masih
dapat diketemukan bukti-bukti arkeleoginya sehingga kini.18 Kepesatan
penyebaran Islam di kawasan ini, tidak dapat dipisahkan dari adanya jaringan
ulama-ulama Nusantara dan ulama-ulama Mekah yang telah terjalin mesra sejak
abad ke-17. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat ulama-ulama yang
menjadi rujukan tidak saja ulama-ulama Nusantara namun juga ulama-ulama dunia
Islam pada umumnya. Diantaranya adalah AhmadKhatib al-Sambasi (1802-1879 M),
Muhammad Basuni bin Muhammad `Imran (1885-1953 M) dan Guru Haji Isma‟il Mundu
(1870 – 1957 M).[1]
Perkembangan
Islam di Kalimantan menggeser keberadaan agama Hindu Buddha dan berdampak pada
munculnya Kerajaan Islam di Kalimantan. Terdapat enam kerajaan islam di
kalimantan barat yaitu, Kerajaan Selimbau, kerajaan ini didirikan oleh orang
Dayak yang benama Guntur Baju Binduh atau Raja Abang Bhindu sekitar abad ke-7.
Yang kedua ialah kerajaan mempawah, Asal usul nama Mempawah dari istilah
"Mempauh", sejenis pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian
dikenal dengan sungai Mempawah.
B. B. Terjalinnya hubungan antara kerajaan
islam
Pada masa lampau di Kalimantan Barat terdapat sejumlah kerajaan
baik besar maupun kecil. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut antara lain
kerajaan sambas, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Kubu, Kerajaan Matan,
Kesultanan Sintang, dan lain sebagainya. Di Kalangan masyarakat Kalimantan
Barat, kawasan Sambas dijuluki sebagai “Serambi Mekah”.
Sebelum Islam datang, kerajaan Sambas selalu dikaitkan dengan
kekuasaan Hindu/Buddha, meskipun belum teridentifikasi nama kerajaannya. Dalam
pupuh 13 Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Sambas merupakan satu negeri yang
merupakan negara taklukan Majapahit. Informasi terawal Islam datang pertama
kali ke Sambas pada awal abad ke-15 dibawa oleh orang Cina. Menurut informasi
itu pada tahun 1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi—sebuah komunitas Cina.
Kemudian pada tahun 14636 Laksamana Cheng Ho yang terkenal itu, atas perintah
Kaisar Cheng Tsu atau Jung Lo (kaisar keempat Dinasti Ming) selama tujuh kali
memimpin ekspedisi ke Nan Nyang. Peralihan kerajaan Sambas kepada Islam dapat
ditelusuri dari kedatangan Raja Tengah dari Brunei. Raja Tengah adalah putra
Sultan Brunei ke-9 yaitu Sultan Muhammad Hasan yang berkuasa antara tahun
1582-1602.7 Ia terkenal gagah berani dan giat menyebarkan agama Islam.
Sepeninggal Sultan Muhammad Hasan kesultanan Brunei diperintah oleh putranya
Sultan Abdul Jalil Akbar yang merupakan saudara tua Sultan Tengah.[2]
C. Kondisi sosial keagamaan masyarakat
kampung-kampung tertentu di daerah ini, Islam sudah menjadi agama
mayoritas di kalangan penduduk. Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya
publikasi di samping karena peralihan agama di tempat ini tidak serta-merta
menyebabkan peralihan identitas. Berbeda keadaannya dengan yang terjadi lebih
dari 150 tahun yang lalu di Kapuas Hulu misalnya, penduduk asli yang menganut
agama Islam otomatis menjadi Melayu. Salah satu bagian komunitas asli
Kalimantan Barat yang terus melakukan konversi agama asal kepada Islam adalah
orang Kanayatn. Satu komunitas masyarakat asli Kalimantan Barat yang jumlahnya
relatif banyak yang terdapat di Kabuapten Landak. [3]
Masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat tidak keberatan hidup
bertetangga dengan penganut agama lain dan sebesar 26.25% sangat tidak
keberatan hidup bertetangga dengan penganut agama lain. Responden yang
menyatakan keberatan dan sangat keberatan jika hidup bertetangga dengan
penganut agama lain sebesar 1%. Tingkat toleransi antar umat beragama di
Provinsi Kalimantan Barat masih sangat baik. Toleransi yang ada di masyarakat
tidak sebatas hidup berdampingan dengan penganut agama lain akan tetapi juga
masalah ibadah. Ini menunjukan untuk membangun relasi sosial antar kelompok
agama yang ada sudah signifikan untuk disebut rukun. [4]
Sistem-sistem sosial mempengaruhi kerukunan umat beragama
antaretnik di Provinsi Kalimantan Barat. Sistem-sistem sosial masyarakat
tersebut berupa sistem sosial yang terbangun dari kelompok-kelompok berdasarkan
etnik Melayu, Dayak, Bugis, Madura, Jawa, dan komunitas etnik lainnya.
Paguyuban etnik mulai membuka diri dan toleransi atarumat beragama berjalan
cukup baik, karena merasa kesadaran hidup rukun mendorong tumbuhnya kerukunan
antar umat beragama di Kalimantan barat Interaksi antar komunitas etnik dan
antar paguyuban etnik tersebut terdapat hubungan umat beragama antar etnik dari
berbagai aspek yaitu hubungan perekonomian dan mata pencaharian, hubungan
pertemanan, ketetanggaan, dan identitas etnik, hubungan antar kelompok agama,
dan hubungan organisasi politik.[5]
[2] Moh. Haitami Salim, Hermansyah, Yapandi,
Erwin, Eka Hendry, Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain Pontianak, Tahun 2010.
[3]
Hermansyah, “Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam
Muslim Kanayatn Dayak Slim Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen
Suprapto No. 19 Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March
2013): 341.
[4]
Arif Gunawan Santoso, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah,
“Analisis Indeks Kerukunan Umat Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN:
1412-1697 e-ISSN: 2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28
(Desember 2022).
[5]
arnis Rachmadhani, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di
Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat,” Religious Research and
Development, Semarang Volume 2, Nomor 1 (June 2018).
DAFTAR
PUSTAKA
Haris Nur M Didik, “Akar
Tradisi Politik Sufi Ulama Kalimantan Barat Abad Ke-19 Dan 20.”
Salim Haitami Moh, Hermansyah, Yapandi, Erwin, Eka Hendry,
Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain
Pontianak, Tahun 2010.
Hermansyah,
“Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam Muslim Kanayatn Dayak Slim
Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen Suprapto No. 19
Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March 2013).
Santoso Gunawan
Arif, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah, “Analisis Indeks Kerukunan Umat
Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN: 1412-1697 e-ISSN:
2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28 (Desember 2022).
Rachmadhani
Arnis, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di Kota Pontianak Provinsi
Kalimantan Barat,” Religious Research and Development, Semarang Volume
2, Nomor 1 (June 2018).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar