Jumat, 09 Juni 2023

ISLAM DI INDONESIA: ZAMAN MODERN DAN KONTEMPORER

A.    Awal mulanya terbentuk kerajaan islam di kalimantan barat

Kalimantan Barat telah dikenali sejak dahulu sebagai kawasan pusat penyebaran dakwah Islam. Di kawasan ini terdapat 21 kesultanan Islam yang masih dapat diketemukan bukti-bukti arkeleoginya sehingga kini.18 Kepesatan penyebaran Islam di kawasan ini, tidak dapat dipisahkan dari adanya jaringan ulama-ulama Nusantara dan ulama-ulama Mekah yang telah terjalin mesra sejak abad ke-17. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat ulama-ulama yang menjadi rujukan tidak saja ulama-ulama Nusantara namun juga ulama-ulama dunia Islam pada umumnya. Diantaranya adalah AhmadKhatib al-Sambasi (1802-1879 M), Muhammad Basuni bin Muhammad `Imran (1885-1953 M) dan Guru Haji Isma‟il Mundu (1870 – 1957 M).[1]

Perkembangan Islam di Kalimantan menggeser keberadaan agama Hindu Buddha dan berdampak pada munculnya Kerajaan Islam di Kalimantan. Terdapat enam kerajaan islam di kalimantan barat yaitu, Kerajaan Selimbau, kerajaan ini didirikan oleh orang Dayak yang benama Guntur Baju Binduh atau Raja Abang Bhindu sekitar abad ke-7. Yang kedua ialah kerajaan mempawah, Asal usul nama Mempawah dari istilah "Mempauh", sejenis pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian dikenal dengan sungai Mempawah.

B. BTerjalinnya hubungan antara kerajaan islam

Pada masa lampau di Kalimantan Barat terdapat sejumlah kerajaan baik besar maupun kecil. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut antara lain kerajaan sambas, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Kubu, Kerajaan Matan, Kesultanan Sintang, dan lain sebagainya. Di Kalangan masyarakat Kalimantan Barat, kawasan Sambas dijuluki sebagai “Serambi Mekah”.

Sebelum Islam datang, kerajaan Sambas selalu dikaitkan dengan kekuasaan Hindu/Buddha, meskipun belum teridentifikasi nama kerajaannya. Dalam pupuh 13 Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Sambas merupakan satu negeri yang merupakan negara taklukan Majapahit. Informasi terawal Islam datang pertama kali ke Sambas pada awal abad ke-15 dibawa oleh orang Cina. Menurut informasi itu pada tahun 1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi—sebuah komunitas Cina. Kemudian pada tahun 14636 Laksamana Cheng Ho yang terkenal itu, atas perintah Kaisar Cheng Tsu atau Jung Lo (kaisar keempat Dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi ke Nan Nyang. Peralihan kerajaan Sambas kepada Islam dapat ditelusuri dari kedatangan Raja Tengah dari Brunei. Raja Tengah adalah putra Sultan Brunei ke-9 yaitu Sultan Muhammad Hasan yang berkuasa antara tahun 1582-1602.7 Ia terkenal gagah berani dan giat menyebarkan agama Islam. Sepeninggal Sultan Muhammad Hasan kesultanan Brunei diperintah oleh putranya Sultan Abdul Jalil Akbar yang merupakan saudara tua Sultan Tengah.[2]

C. Kondisi sosial keagamaan masyarakat

kampung-kampung tertentu di daerah ini, Islam sudah menjadi agama mayoritas di kalangan penduduk. Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya publikasi di samping karena peralihan agama di tempat ini tidak serta-merta menyebabkan peralihan identitas. Berbeda keadaannya dengan yang terjadi lebih dari 150 tahun yang lalu di Kapuas Hulu misalnya, penduduk asli yang menganut agama Islam otomatis menjadi Melayu. Salah satu bagian komunitas asli Kalimantan Barat yang terus melakukan konversi agama asal kepada Islam adalah orang Kanayatn. Satu komunitas masyarakat asli Kalimantan Barat yang jumlahnya relatif banyak yang terdapat di Kabuapten Landak. [3]

Masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat tidak keberatan hidup bertetangga dengan penganut agama lain dan sebesar 26.25% sangat tidak keberatan hidup bertetangga dengan penganut agama lain. Responden yang menyatakan keberatan dan sangat keberatan jika hidup bertetangga dengan penganut agama lain sebesar 1%. Tingkat toleransi antar umat beragama di Provinsi Kalimantan Barat masih sangat baik. Toleransi yang ada di masyarakat tidak sebatas hidup berdampingan dengan penganut agama lain akan tetapi juga masalah ibadah. Ini menunjukan untuk membangun relasi sosial antar kelompok agama yang ada sudah signifikan untuk disebut rukun. [4]

Sistem-sistem sosial mempengaruhi kerukunan umat beragama antaretnik di Provinsi Kalimantan Barat. Sistem-sistem sosial masyarakat tersebut berupa sistem sosial yang terbangun dari kelompok-kelompok berdasarkan etnik Melayu, Dayak, Bugis, Madura, Jawa, dan komunitas etnik lainnya. Paguyuban etnik mulai membuka diri dan toleransi atarumat beragama berjalan cukup baik, karena merasa kesadaran hidup rukun mendorong tumbuhnya kerukunan antar umat beragama di Kalimantan barat Interaksi antar komunitas etnik dan antar paguyuban etnik tersebut terdapat hubungan umat beragama antar etnik dari berbagai aspek yaitu hubungan perekonomian dan mata pencaharian, hubungan pertemanan, ketetanggaan, dan identitas etnik, hubungan antar kelompok agama, dan hubungan organisasi politik.[5]



                [1] Didik M Nur Haris, “Akar Tradisi Politik Sufi Ulama Kalimantan Barat Abad Ke-19 Dan 20.”

[2] Moh. Haitami Salim, Hermansyah, Yapandi, Erwin, Eka Hendry, Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain Pontianak, Tahun 2010.

                [3] Hermansyah, “Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam Muslim Kanayatn Dayak Slim Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen Suprapto No. 19 Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March 2013): 341.

                [4] Arif Gunawan Santoso, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah, “Analisis Indeks Kerukunan Umat Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN: 1412-1697 e-ISSN: 2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28 (Desember 2022).

                [5] arnis Rachmadhani, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat,” Religious Research and Development, Semarang Volume 2, Nomor 1 (June 2018).


DAFTAR PUSTAKA

Haris Nur M Didik, “Akar Tradisi Politik Sufi Ulama Kalimantan Barat Abad Ke-19 Dan 20.”

Salim Haitami Moh, Hermansyah, Yapandi, Erwin, Eka Hendry, Zulkifli, Luqman, Sejarah Kerajaan Sambas Kalimantan Barat, Stain Pontianak, Tahun 2010.

Hermansyah, “Islam Dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Dalam Muslim Kanayatn Dayak Slim Di Kalimantan Barat,” STAIN Pontianak, Jl. Letjen Suprapto No. 19 Pontianak, hermansyahii@yahoo.com Volume 7, Nomor 2 (March 2013).

Santoso Gunawan Arif, Deden Istiawan, and Laelatul Khikmah, “Analisis Indeks Kerukunan Umat Beragama Di Provinsi Kalimantan Barat,” p-ISSN: 1412-1697 e-ISSN: 2477-3816, DOI: 10.19109/intizar.v28i2.14113 Vol. 28 (Desember 2022).

Rachmadhani Arnis, “Dimensi Etnik Dalam Kerukunan Umat Beragama Di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat,” Religious Research and Development, Semarang Volume 2, Nomor 1 (June 2018).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...