Selasa, 18 Juni 2024

Perang Ketupat, Tradisi Sebelum Menjelang Ramadhan

 



Tradisi perang ketupat menjadi budaya yang masih dipertahankan masyarakat di pesisir barat Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel). Tradisi ini sudah turun-temurun dan dikenal sejak tahun 1800-an. Sampai saat ini, tradisi itu bisa disaksikan setahun sekali di Pantai Pasir Kuning Desa Tempilang, tepatnya di Kabupaten Bangka Barat (Babar). Tradisi perang ketupat itu dilaksanakan pada hari ketujuh setelah Nisfu Syaban, atau sebelum datangnya bulan suci Ramadan. Biasanya penduduk setempat menyebutnya dengan bulan ruwah. Sebelum melaksanakan perang, pada malam harinya, masyarakat Tampilang akan melakukan acara Penimbongan.

Penimbongan adalah kegiatan yang menjadi tradisi sebelum perang bantal yang berupa acara penampilan bermacam tarian oleh masyarakat di tepi Pantai Kuning. Beberapa tarian yang ditampilkan adalah tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo. Sebelum menari, biasanya ketua adat akan membakar dupa lebih dulu hingga asapnya mengepul ke atas. Sebelum perang benar-benar dimulai, kedua dukun itu akan membaca mantra terlebih dahulu hingga dukun laut kerasukan arwah leluhur. Dukun laut Biasanya, perang ketupat ini berlangsung selama tiga ronde, kemuian dukun akan menghentikan perang dan meminta mereka untuk bersalaman dan berpelukan kembali.

Biasanya, perang ketupat ini berlangsung selama tiga ronde, kemuian dukun akan menghentikan perang dan meminta mereka untuk bersalaman dan berpelukan kembali. Setelah berakhirnya perang ketupat, masih ada sesi tambahan yang tidak termasuk dalam rangkaian acara perang ketupat, yaitu setiap rumah membuka pintu sebagai simbol mepersilakan bersilaturahmi dan makan seadanya sesuai dengan yang disediakan tuan rumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Tapera Kebijakan Merampas Uang Rakyat Oleh Pemerintah

  Tapera adalah singkatan dari tabungan perumahan rakyat. Sebagaimana tercatat dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang P...