Tradisi
perang ketupat menjadi budaya yang masih dipertahankan masyarakat di pesisir
barat Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel). Tradisi ini sudah
turun-temurun dan dikenal sejak tahun 1800-an. Sampai saat ini, tradisi itu
bisa disaksikan setahun sekali di Pantai Pasir Kuning Desa Tempilang, tepatnya
di Kabupaten Bangka Barat (Babar). Tradisi perang ketupat itu dilaksanakan pada
hari ketujuh setelah Nisfu Syaban, atau sebelum datangnya bulan suci Ramadan.
Biasanya penduduk setempat menyebutnya dengan bulan ruwah. Sebelum melaksanakan
perang, pada malam harinya, masyarakat Tampilang akan melakukan acara
Penimbongan.
Penimbongan
adalah kegiatan yang menjadi tradisi sebelum perang bantal yang berupa acara
penampilan bermacam tarian oleh masyarakat di tepi Pantai Kuning. Beberapa
tarian yang ditampilkan adalah tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo.
Sebelum menari, biasanya ketua adat akan membakar dupa lebih dulu hingga
asapnya mengepul ke atas. Sebelum perang benar-benar dimulai, kedua dukun itu
akan membaca mantra terlebih dahulu hingga dukun laut kerasukan arwah leluhur.
Dukun laut Biasanya, perang ketupat ini berlangsung selama tiga ronde, kemuian
dukun akan menghentikan perang dan meminta mereka untuk bersalaman dan
berpelukan kembali.
Biasanya,
perang ketupat ini berlangsung selama tiga ronde, kemuian dukun akan
menghentikan perang dan meminta mereka untuk bersalaman dan berpelukan kembali.
Setelah berakhirnya perang ketupat, masih ada sesi tambahan yang tidak termasuk
dalam rangkaian acara perang ketupat, yaitu setiap rumah membuka pintu sebagai
simbol mepersilakan bersilaturahmi dan makan seadanya sesuai dengan yang
disediakan tuan rumah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar